Sabtu, 1 Oktober 2016

“Assalamualaikum….” sapaku sambil masuk kamar. Wajah itu tersenyum, mencoba menoleh ke arah suaraku, bibirnya bergerak-geram menjawab salamku dalam lirih. Aaaaaaaaah…bahagianya aku mendengarnya. Suara yang kurindukan dan selalu kurindukan. Suara ibu..

Bergegas aku berjongkok di tepi tempat tidur, menunduk dan mencium kedua pipi keriput itu.
“Sudah makan?” tanyaku. Ibu mengangguk sambil engenggam tanganku.
“Sudah mandi?” kembali di jawab dengan anggukan. He,he…aku tahu pasti belum.
“Belum…kehabisan pampers,” jawab adikku yang muncul di pintu.
“Mandi dulu ya…” jawabku kemudian keluar untuk menyiapkan peralatan mandi ibu. Adikku mengikuti. Rumah sepi, keponakan masih di sekolah semua.
“Sarapan saja dulu, ” kata adikku mengingatkan. Aaaaah ya, kalau pulang pagi-pagi memang aku tidak sempat sarapan. Lapar tapi…aaaaaaaaaah, mandiin ibu dulu aja lah. Karena itu yang pasti keputusan yang akan diambil ibu ketika aku kecil dan belum bisa mandi sendiri. Tidak peduli selelah apapun. Selapar apapun. Aku pasti jadi prioritasnya yang nomor satu. Ibu akan lebih memilih menyuapiku lebih dulu sebelum ibu makan. Akan memandikanku lebih dulu sebelum ibu mandi.

Jadi sambil menggeleng, aku mulai mebawa ember ke kamar mandi untuk kuisi air, mengambil handuk, sabun. Dari lemari ku keluarkan baju bersih dan washlap bersih.

Kembali aku berjongkok di tepi tepat tidur sambil berucap riang, “mandi ya, Bu…”
Ibu mengangguk dan tersenyum.

Dan itu bayaran untukku.
Senyum ibu.

Advertisements

#BookForPapua: A Little Operation I Proudly Support

Ok.
Sejak tahun lalu, aku komitmen membantu teman menjalankan project #BookForPapua. Aku tidak merasa seorang yang baik sih, tetapi sejak bekerja, aku selalu berpikir, sepertinya Tuhan menciptakan aku untuk sesuatu yang lebih. Tidak begini-begini saja. Bekerja, nge-mall, nonton, mbolang, balik ke rumah, tidur, masak, baca buku. Ha,ha…sepertinya bakalan membosankan kalau hidup itu cuma begitu terus. Dan aku, sumpah tidak mau mati bosan. Bagiku itu hidup yang mengerikan.

Nah…disela-sela waktu kerja, jadilah volunteer ngurusin Persadia (perhimpunan Diabetes Indonesia)di unit tempat kerja. Selain itu jadi volunteer di komunitas ostomate atau orang-orang penyandang stoma. Membantu mereka mencarikan donasi kantong gratis, mendistribusikannya, membantu gathering rutin yang mereka adakan.
Di bayar?
No.
But I’m happy doing it.

Tapi hati yang bandel ini masih terus bertanya, apalagi ya…apalagi yang bisa kukerjakan untuk orang lain? Masa cuma egitu doang? Harusnya ada lagi.

Nah tahun lalu..pas iseng buka facebook, ngebaca postingan teman yang isinya, “Kalau ada buku-buku bacaan bekas, bisa disumbangkan ke dia. Dia akan salurkan ke beberapa rumah baca yang butuh buku-buku tersebut.”

Ha,ha…buku?
That’s my favorite. Langsung buka lemari buku dan terkumpul…lupa, mungkin enam atau tujuh dan esoknya langsung saya kirim.
Dari sana…gak tau kenapa, kelakuan ‘kriminal’ ku menjadi. Temen-temen deket saya seret untuk juga sumbang buku. Kuupload itu di facebook. Lha dalah…kok ya responnya bagus banget. Temen menyeret temennya temen, menyeret temennya temennya temen, menyeret lagi temennya temennya temennya temen…He,he.

Sampai akhirnya, karena banyak, teman yang aku bantuin bilang, “gak sah dikirim ke Jogja. Taruh saja di Surabaya, biar nanti langsung diangkut ke perak.”

Nah..sejak itu gak kebendhung lagi deh keterlibatanku di proyek ini. Bahkan sempet pergi ke Papua segala menghabiskan separuh cuti tahunan sendiri, demi ngebantuin #Bookforpapua dan melihat dengan mata kepala sendiri kondisi anak-anak disana. What an experience! Meski cuma sebentar, pembelajaran yang kudapat banyak banget. Sampai-sampai itu merubah banyak pandanganku tentang banyak hal sebelumnya.

Kalau kupikir sepulang dari sana I’ll be slow down karena rasa penasaran dah terjawab, perkiraan itu salah. Yang ada malah pengen kesana lagi. Dan lagi. Dan lagi. Bahkan yang namanya jalan-jalan syantik itu sudah turun diurutan kedua. Wkwkwk…sekiranya ku tulis ini tiga tahun lalu, aku sendri pasti ketawa gak percaya. That’s me..who love to see beautiful landscape, silent places macam gunung, pantai-pantai yang masih sedikit dijamah orang, melihat desa-desa adat yang semakin sedikit di Indonesia ini.
Lha tiba-tiba…Papua? Dan bukan ke Raja Ampat lho ini…Asmat!

And now…here I’m. Find my other happy place. Helping Papuan kids to have a better education. Dan itu termasuk mengembangkan bakat ‘kriminal’ ku dalam hal todong menodong atau palak memalak donasi ke temen-temen. He,he…sepertinya kalau ini bakat alami dan muncul dan grow fast dalam kondisi yang tepat.

Melihat tempat-tempat indah itu memang membahagiakan hati. I’ve been there. Jadi tahu bingits perasaan itu.
Tetapi membantu orang-orang yang membutuhkan, tanpa di bayar itu, ternyata jauh lebih membahagiakan hati.
Seperti pepatah bilang,”Sukarelawan itu tidak dibayar bukan karena tidak berharga. Tetapi karena mereka sangat berharga sampai kita tidak lagi manusia yang mampu membayarnya. Dan serahkan tugas itu pada Allah Yang Maha Kaya.”

And I feel proud!
Tidak percaya? Coba saja!

Journey to The East 4: Lima Jam (Terlantar) di Ruteng

Seharusnya kami tahu bahwa jangan pernah menggantungkan harapan pada satu manusia bernama Ivan Saka. Sebelum memasuki daerah Denge…di Pela aku sudah menghubunginya, mengatakan akan ke Waerebo. Dan Kamis pagi, kami akan ke Ruteng untuk ke Bajawa. Waktu itu pilihannya belum jelas, antara ke Riung atau ke Bena. Ivan bilang, “Gampang sudah kalo di Ruteng…saya ada di rumah. Nanti saya atur kendaraan. Telpon saja begitu keluar dari sana (Waerebo).”

Hmmm…baiklah! Ivan ada di Ruteng itu jelas berita bagus. Karena sebelumnya kami pikir dia sudah ikut Pra Jabatan. Dan sebenernya, minta tolong Ivan ini plan B. Plan A nya adalah, kami mengejar travel pagi dari Ruteng ke Bajawa untuk mengejar bus ke Riung atau sekedar melihat kampung Bena. Tapi ya itu..Lha wong Ivan kok dijadikan plan Back Up. Pasti berantakan.

Nah…Kamis pagi itu, sudah lewat pukul tujuh waktu kami sampai terminal Mena. Kami duduk dibangku terminal dengan aku mencoba menelpon Ivan. SMS yang aku kirim sejak dapat signal dalam perjalanan keluar dari Denge tadi belum terbaca. Sekali tidak diangkat. Dua kali tidak diangkat. Tiga kali…aku menyerah.

“Coba ko telpon Treddy,” pintaku ke Ka Ros.Tapi ternyata Treddy, adik Ivan, ada di Surabaya lagi ngurus STR, Treddy minta kami telpon Ivan. Tapi trus dia ikut panik pas kami bilang Ivan tidak bisa dihubungi.

“Pasti dia ketiduran dan gak ada yang bangunin Ka,” kata Treddy. Yaaaaaaaaaah, itu juga yang kami duga.

Kami akhirnya menelpon Cika…temen sekelas kami waktu kuliah. Cika sedang jaga pagi. Kami tahu bagaimana kerja di rumah sakit. Pasti dia tidak bisa berkutik atau nekad menemui kami karena punya tanggung jawab ke pasien. Kami sudah cukup bersyukur diarahkan Cika untuk pergi ke travel Gunung Mas (travel yang punya reputasi bagus di Flores) dengan ongkos angkot sepuluh ribu sampai tempat (diantar ke agen travel). Informasi dari Cika ini menyelamatkan kami dari keharusan membayar dua kali lipat lebih mahal, seperti yang sebelumnya ditawarkan sopir angkot. Sopir menyetujui kami membayar sepuluh ribu perorang sampai ke agen travel.

Terminal Mena dengan kota Ruteng sebenernya tidak jauh. Sebentar saja kami sudah masuk kota kecil ini. Dan itu sopir berusaha membujuk kami untuk ikut travel-travel tidak jelas di kota. Mereka bilang, travel-travel itu juga akan ke Bajawa. Langsung berangkat, gak pake nunggu. Gunung Mas ke arah Bajawa sudah berangkat. Jadi percuma ke Gunung Mas. Hah…siapa juga mau percaya dengan tampang-tampang mereka nih. Model tipu-tipu. Tentu saja kami keukeuh tidak mau, dan tetap minta diturunkan di agen Travel Gunung Mas seperti janji sebelumnya. Meski gondhok, itu sopir mau juga nganterin kita. Hm…sepertinya mereka dapat fee kalo kami bersedia naek travel tidak jelas yang mereka tawarkan.

Di depan agen Gunung Mas, tuh sopir angkot minta aku turun dulu nanyain jadwal travel. Kalo gak ada, mereka mau antar kami kembali ke travel yang tadi ditawarkan. See? Ngotot banget kan?

Aku turun, dan sama petugas di agen dibilang…travel pagi memang sudah berangkat. Tapi nanti ada siang jam dua. Lima jam lagi. Well, we didn’t have any choice. Yo wes…turun. Ka Ros langsung ngacir cari kamar mandi. Busyet dah tuh orang. Aku nyari-nyari duit duapuluh ribu di dompet gak ada. Terpaksa lah aku kasih uang 50 ribu ke sopir dan dikembalikan 20 ribu.

“Kurang nih kembaliannya,” kataku melihat itu duit cuma duapuluh ribu.

“Pas kaka.”

“Pas bagaimana? Limapuluh dikurangi duapuluh bukannya kembali tigapuluh,” tegasku. Aduuuuuuuuuuh, seperti ngajarin pengurangan sederhana sama anak SD.

“Ongkos orangnya sepuluh memang. Tapi itu barang bayar juga lima ribu,” jelasnya tanpa rasa berdosa sambil nunjuk ke ransel yang aku gendong. Apa?!!! Sejak kapan tas bayar sendiri? Toh tas ini tidak menuhin tempat, dan tidak ada penumpang yang tidak dapat tempat duduk karenanya. Dasar tukang tipu! Otak isinya tipuan melulu!

Rasanya di kepala tiba-tiba muncul tanduk dan gigi menjadi bertaring. Pengen nyeruduk itu sopir. Menyebalkaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan! Dan yang bisa aku lakukan hanya membanting pintu angkot sekenceng-kencengnya.

Para pegawai di Agen Gunung Mas hanya bisa menggelengkan kepala saat menanyakan ada apa. Dan aku jengkel ma Ka Ros yang ngabur saja ke kamar mandi. Ini pasti gak akan kejadian kalo kami bayar pake uang pas. Bukan duit lima ribunya, tapi jengkelnya kena tipu ma sopir ini. Iiiiiiiiiiiiih! Pengen makan orang.

Kami mendinginkan pikiran dan kembali mengatur strategi disini. Travel pagi sudah kelewat, gara-gara otto yang gak on time nyampenya (molor hampir dua jam dari seharusnya). Harapan kami hanya Ivan. Kalau dia bisa antar kami ke Bajawa, bolehlah kami skip Riung, setidaknya masih bisa liat Kampung Bena.

Tapi Ivan belum ada kabar berita. SMS terakhirku yang nanya, “Ko ada dimana?” belum terjawab. Dan hari semakin siang. Semakin banyak orang datang ke agen untuk pesan Travel ke Ende. Dan kami mulai khawatir, kami tidak kebagian seat kalau terus menunggu Ivan. Kami diberitahu pihak gunung Mas, kalau berangkat jam 2 siang, sampai Bajawa sekitar jam enam atau tujuh malam. Tapi kami hanya diturunkan di terminal, mobil travel tidak masuk kota Bajawa. Hm…dan mengingat terminal-terminal yang kami lewati, kami mulai ragu ada kendaraan umum jam segitu menuju kota Bajawa.

Bismillah…akhirnya kami membeli tiket langsung Ende (sambil menangis dalam hati karena tidak jadi melihat kampung Bena). Tapi kami memang harus memilih.

Setelah memesan tiket dan membayar, kami menitipkan ransel di Agen Gunung Mas dan pamit cari makan. Treddy dah ngasih tahu ke Ka Ros, disekitar sini banyak tempat makan. Yang kami lakukan hanya jalan ke arah kota sedikit. Dan kami diperempatan menemukan warung padang dan warung Jawa. Tapi baru Warung Jawa yang buka. Kami masuk memesan nasi Gule untuk menu sarapan kami yang terlambat pake banget. Pelan-pelan kami sudah berdamai dengan hati, dan bisa menerima kenyataan bahwa kami tidak jadi ke Riung atau ke Bena. Traveling pake kendaraan umum ya begini. Kadang ada hal-hal terjadi diluar perkiraan, dan rencana harus berubah ditengah jalan.

Ruteng yang dingin

Ruteng yang dingin

Habis makan, kami kembali ke agen dan ikut nge-charge hape. Buka-buka internet, facebook dan WA yang selama di Denge dan Waerebo tidak berkutik. Upload beberapa foto ke facebook. Membaca komen temen-temen yang menghibur hati.

Dhuhur datang. Suara adzan terdengar cukup dekat, jadi pasti mushola atau masjid tidak jauh dari sini, yang di iyain ama pegawai Gunung Mas. Hanya perlu jalan dikit ke arah kota trus belok kiri, katanya.

Ok. Aku beranjak cari masjid…diikutin Ka Ros. Ruteng kota yang dingin. Tapi dinginnya menipu karena matahari yang cukup terik itu pasti membuat kulit tambah eksotik.

Masjid Ruteng

Masjid Ruteng

Di Masjid Ruteng itu, cuma aku satu-satunya jamaah yang perempuan. Sholat di lantai dua sendirian. Tapi suka. Suasananya tenang. Pengen deh bobok disini, kayaknya itu hamparan sajadah dah mirip kasur aja nyamannya. Tapi…Ka Ros bisa jadi landak kelamaan nunggu aku didepan masjid. Jadi ya…skip dulu bobok siangnya ya. Kembali melipat mukena dan cabut. Kami masih keliling kota Ruteng, nyari pulsa. Ka Ros kehabisan paket data kayaknya. Keliling Ruteng ini mengingatkan kami akan Kota Batu di Malang. Sama-sama mini dan agak dingin. Kontur tata kotanya khas daerah pegunungan. Jalanan naik turun. Tidak ramai sih tapi lumayan hidup.

Dan sbelum balik ke agen travel, aku mengusulkan untuk sekalian cari makan siang. What? Makan lagi?

Ya iyalah..tadi itu kan hitungannya sarapan. Nah ini, dah lewat dhuhur, ya makan siang dong. Ka Ros mengusulkan beli nasi padang, dibungkus buat bekal saja. Makan di otto. Terserah sih…kalo aku sih mau makan ditempat. Haaaa, dia ngikut juga akhirnya makan di warung Padang deket perempatan itu.

Sudah jam satu lewat ketika kami kembali ke agen Gunung Mas. Dan mobil travel yang akan membawa kami ke Ende sudah siap. Tapi kami masih harus menunggu karena itu mobil masih keliling kota dulu menjemput penumpang.

Tiba-tiba ada SMS masuk.

“Ada apa Mba Arum?”.

Ivan.

“Aku ada di Ruteng,” jawabku kalem, masih setengah gondhok karena dia tidak bisa dihubungi. Sebentar kemudian hape bunyi, betul saja. Si Ivan.
“Apa Van?”. Dan seperti kami duga, dia minta maaf karena ketiduran, hape mati kehabisan baterei, gak ada yang bangunin, dia lagi nginap di Borong. Haah, daerah mana lagi itu? Trus dia tanya kami ada dimana?

Kubilang kami ada di agen Travel Gunung Mas, menunggu keberangkatan ke Ende bentar lagi.

“Nginap dulu di Ruteng. Batalin saja itu travel,” pintanya. Gimana mau batalin, kami dah bayar. Dan kami ogah menukarnya dengan janji Ivan yang seperti biasa, belum tentu terealisasi. Bukti nyata kan tadi pagi itu. Awal, dia masih terima waktu kami bilang gak bisa nginap, kami sudah terlanjur bilang ke Tari (di Ende), kami akan datang hari ini. Ivan bilang, nanti akan susul kami ke Ende. Mo anter kami ke Kelimutu. Gombal banget deh ngomongnya. Aku cuma bilang, “See you there, Van…” meski hati yakin 150% dia gak bakal datang.

Dunia tenang sejenak. Sejenak betul. Kemudian itu hape bunyi lagi. Ivan lagi. Kali ini bilang, kami disuruh batalin tiket dan dia akan ke Ruteng sekarang juga. Jemput kami. Hah? Apa-apan nih orang.

“Ini Mama yang minta kalian singgah!” ngotot dia. Aku dan Ka Ros cuma berdoa…jangan sampai Mamanya yang nelpon kami. Kami pasti tidak akan mampu nolak. Kembali aku ngotot, tidak bisa. Kami sudah akan dijemput travel. “Sampaikan terima kasih dan salam kami ke Mama saja,” begitu ku bilang dan kumatikan telpon. Sesama penumpang yang nunggu disitu dah mulai ngeliat ke kami.

Telpon berbunyi lagi. Ivan lagi muncul dilayar. Kembali kuangkat.

“Coba tanya, ada seat sisa tidak ke Ende?”

Hai! Mau ngapain?

“Biar saya ikut kalian ke Ende saja…”. Gak tahu dia serius apa tidak, tapi aku tanya saja e petugas travel yang dijawab, seat sudah penuh. Ivan ngegerundel gak jelas. Emang gue pikirin. “Ya sudah…kalian aku tunggu di lampu merah Borong ya, nanti turun disitu. Mampir rumah dulu.”

Aduuuuuuuuuuuuuuuh, ni orang gak tahu deh musti dikasih tahu dengan cara apa. Aku tetep bilang, No.

Kembali telpon bunyi. Iiiiiiih, pengen deh aku lempar saja itu hape ke muka si Ivan kalo dia ada. Aku gak mau angkat, ku kasih ke Ka Ros dengan pesanan, jangan sampai kebujuk tipu-tipu Ivan yang maksa kami kembali mengubah itinerary. Ka Ros juga tetep bilang kami tidak bisa lagi ubah jadwal. Tiket sudah ditangan dan sebentar lagi berangkat. Eh, marah dia. Ivan bilang, kami punya sifat buruk yang tidak berubah. Sifat buruk? Kami?! Bukannya yang punya sifat buruk itu dia? Ingkar janji. Gak bisa dihubungi. Suka maksa orang.

Tidak mempan dengan paksaan, dia membujuk kami bahwa kami harus melihat kotanya yang indah. Katanya, kalau kami batalin tiket, besok kami akan diantar keliling Ruteng, melihat tempat-tempat indah yang tidak akan kami lupa. Dan siapa yang mau percaya dia saat ini? Tidak ada referensi tempat indah di Ruteng dari apa yang sudah kami baca. Ngibul gak kira-kira.

Gak tahu deh itu telpon bunyi dan diangkat untuk yang ke berapa kali. Dan aku mulai jengkel karena diliatin ma banyak orang. Tiba-tiba petugas travel tanya ke aku, yang butuh seat ke ende jadi apa tidak? Ada satu penumpang yang batalin seatnya. Ku minta Ka ros menghubungi Ivan. Ivan bilang jadi ambil seat dan ikut kami ke Ende. Kami masih belum paham, apa maunya dia ikut kami ke Ende. Paling itu karena dia merasa bersalah saja karena gak angkat telpon tadi pagi.

Trus dia akan nunggu di Borong, yang kata petugas travel…sekitar dua jam dari Ruteng.

Hah…

Akhirnya setelah kami menunggu seribu tahun (karena gak ngapa-ngapain disana), itu travel jemput kami juga. Perkiraan, kami sampai Ende jam sembilan malam.

Jalan dari Ruteng ke Ende ini bener-bener sesuatu. Di awal saja, yang namanya kelokan itu bisa seratus delapan puluh derajad. Naik gunung…turun lagi…naik lagi. Yakin deh, kalo Naomi atau Ririh ikut pasti KO…hm, kira-kira habis berapa anti** ya buat bertahan?
Aku juga sempet merasakan mual. Hadewww. Gak lucu banget kalo sampe muntah. Kupaksa badan buat duduk tegak, dan melihat keluar. Lumayan…mual hilang. Gak tahu kenapa, suka panik saja kalo gak bisa liat apa pun. Ujung-ujungnya mual. He,he…

Menjelang sampai Borong, sopir Travel nyuruh kami menelpon Ivan. Ivan santai jawab, katanya dia sudah di lampu merah.

“Dia nunggu di lampu merah, Pak,” jawabku ke sopir.

Bener saja…sosok menyebalkan itu berdiri dipinggir jalan sambil senyum-senyum, gak jelas. Ka Ros sudah gemes. “Kita hancurkan dia di dalam otto, Rum,” bisik Ka Ros bersemangat. Balas dendam yang manis.

“E…kenapa orang gila itu ada disini?” Penumpang laki-laki yang duduk didepan kami tiba-tiba nyeletuk waktu mobil berhenti di depan Ivan. Kami bengong. Siapa orang gila?

Tertuduh #Iphank

Tertuduh #Iphank

#JourneytoTheEast
#CeritadariTimur

#Edisiterlantar

Journey to The East: Mengunjungi Negeri Dongeng

Haloooooooooo….

Nih dia cerita yang dah ditunggu-tunggu (geer pangkat sepuluh). Kali ini ceritaku agak panjang dan berliku…jadi mending ambil cemilan dulu ma minuman anget yeee. Buruan tapi…jangan lama-lama. Baik juga ambilin buatku sekalian. #timpuksandal.

Ok…here we go.

….

Hari selasa, kami check out pagi-pagi karena dah janjian ama sopir bus gemini untuk dijemput jam 6 pagi di depan gang Bajo view. Kenapa pagi-pagi? Supaya sampai pertigaan pela masih dibawah jam 11 siang untuk dapat otto ke Denge, desa terakhir sebelum Waerebo. Perhitungan kami, dengan berangkat jam enam pagi, kami akan sampai Pela sekitar jam sembilan atau sembilan lebih lah.
Kami dijemput di depan gang Bajo view jam enam kurang seperempat. Sehari sebelumnya kami dah telpon bapak sopir, pesen tempat. Keren kan…bis bisa dipesan dan ngejemput penumpang, lebih awal pula. Hah..pasti kami tidak akan terlambat sampai Pela. #gembirayangterlaludini
Rupanya itu bus masih berputar-putar di Labuan Bajo, menjemput penumpang satu-satu…kemudian berhenti dulu di depan penjual makanan. Kernet turun karena ternyata ada penumpang minta beli nasi bungkus dan minta tolong itu kernet bus. Dan kami pun ikut-ikutan beli. Ei…maklum, kami juga belum sarapan. Jadi kami sarapan dalam bus yang melaju ke arah Ruteng-Bajawa. Sepanjang perjalanan, bus sering berhenti. Ada aja penumpang yang meraa ingin beli oleh-oleh sepanjang jalan.

Ada penjual durian di pinggir jalan, seorang ibu teriak mau beli durian. Bapak sopir menghentikan bus trus nanya, “Berapa jual itu durian?”

“40 ribu!” jawab penjualnya.

“Aih…mahal ko. Tawar 25 sudah.” kata si Ibu.

“Dua lima boleh?” tawar sopir bus.

“Naik sedikit kah…belum dapat segitu.”

“Ahh…tidak jadi, Om.”
Bus kembali melaju. Beberapa kilometer kemudian ada lagi penjual durian. SI Ibu masih ingin beli.

“Berapa satu itu durian?” tanya sopir.

“30 ribu!”

“Dua lima boleh?”

“Beli berapa bapa?”

“Dua,” bisik si Ibu disamping sopir.

“Dua!” teriak sopir. Penjual itu menurunkan duriannya, menyeberang jalan, menyerahkan durian ke sopir dan menerima uang. Bus pun berjalan kembali. Aku dan Ka Ros saling pandang. Dan pikiran kami sama. Untung Nana ma Bingar gak ikut. Bisa muntah mereka naik bis dan mencium bau durian. He,he…

Narsis dalam bis Labuan Bajo - Pela

Narsis dalam bis Labuan Bajo – Pela

Bukan hanya karena membeli sesuatu bis sering berhenti. Terkadang bis tiba-tiba saja berhenti. Trus sopir turun. Penasaran kami nengok ke Belakang. Ternyata mereka duduk-duduk, merokok sambil ngobrol dipinggir jalan. Santeeeeeeee banget. Tuhan…kapan sampai Pela caranya begini.

Dan betul saja…setelah berhenti puluhan kali…dua kali pake adegan mogok dan perlu didorong itu bis (ngenes banget), kami akhirnya nyampai pertigaan Pela jam 10 lewat dikit. Begitu kami turun…kami langsung diserbu ojek. “Waerebo…waerebo?!”, tanya mereka. Kami hanya mengangguk. Mereka lalu berebut menawarkan ojek sampai Denge…desa terakhir sebelum Waerebo. Tapi kami tidak mau naik ojek…kami mau naik Otto kayu.

“Otto sudah lewat!”. Haaah…masa sih? Bukannya mereka turun ke Denge jam 11 atau 12 siang? “Sudah tidak ada Otto lewat Kakak…naik motor su!”.

Kami tidak percaya. Nih semua ojek sepertinya punya tampang tipu-tipu kecil. Aku menyeberang..menuju satu toko yang agak besar yang ada disitu. Beli minuman dan sekalian tanya masih ada otto ke Denge apa tidak? Ibu itu mengangguk curi-curi sambil melirik ke arah ojek…trus berbisik, “Otto turun lebih pagi hari ini. Tapi nanti masih ada lagi.”
Hmmm…untung!
Kami pun ndhoprok di teras toko itu..nungguin otto. Ngobrol sama mama-mama penjual jeruk dan keripik pisang. Tapi sampai siang…itu otto jurusan Denge tidak juga muncul. Yang beberapa kali lewat jurusan ke Narang. Narang ke Denge masih jauh pake banget. Si ibu pemilik toko bantu nanyain ke semua otto yang lewat soal otto ke Denge. Rupanya hari itu, otto dari Denge hanya jalan satu. Dan kami sudah ketinggalan. Huaaaaaaa…piye iki?

Kami menunggu sampai sekitar jam dua, habis beberapa plastik keripik pisang. Lewat di depan kami, bus kecil 1/4 warna merah jurusan Narang. Mereka diminta si Ibu pemilik toko antar kami sampai Denge. Awalnya mereka tidak bersedia. Tapi kemudian ada diskusi antara kernet dan sopir. Trus bilang, “50 ribu ya…biar kami antar sampai Denge.”

Normalnya…kalau naik otto cuma 25 ribu. Tapi berhubung kata si Ibu…mungkin otto lain tidak turun, jadi lebih baik kami ambil saja tawaran itu bus. Oke lah. Tak apa. Yang penting sampai Denge.

Didalam bis…kami duduk dibangku paling belakang. Suara musiknya kenceng banget, pas di kuping lagi. #Inimemangderitague.

Ada seorang ibu…yang ngaku katanya dulu orang Waerebo. Dia banyak sekali bicara dan bertanya, mengajak kami ngobrol meski kadang kami sendiri bingung dengan pertanyaannya.

“Dari mana?”
“Dari SUrabaya, Mama?”

“Kapan datang?”

“Sudah hari sabtu kemaren.”
“Ada perlu apa di Waerebo?”
“Berkunjung saja…”

“Jadi berangkat dari Makasar jam berapa?”

Makasar????!

….

Jalan ke waerebo ini sempit, rusak, naik turun dan belok-belok. Kalo ada 2 kendaraan berpapasan…salah satu harus berhenti dulu. Untung kondisi itu bisa dihitung jari. Kami seperti dibanting-banting didalam bis. Rupanya kernet bus itu paham pikiran kami. “Jalan rusak,” katanya. “Ini masih untung naik bus. Coba naik otto kayu, bisa kurus pantat.”

Hmmm…istilah baru.

Kurus pantat. #Cobakalianbayangkansebentar.

Penumpang mulai turun satu-satu. Tinggal kami berdua. Ditengah jalan…rupanya ada ketidaksepakatan antar sopir dan kernet. Sopir rupanya tidak mau mengantar kami sampai Denge. Si Kernet bersikukuh tetap antar karena tadi sudah janji. Semua penumpang yang masih tersisa sepertinya juga protes pada si sopir. Sayangnya kami tidak bisa menangkap isi percakapan mereka karena bicara dalam bahasa lokal. #Pusing.

Kami mau diturunkan di Narang. Trus diminta naik ojek saja. Kami tidak mau, karena Narang dengan Denge itu masih jauh. Dan belum tentu itu ojek mau kami bayar 50 ribu. Trus mereka bilang kalau tidak mau diturunkan di naranng, mereka mau turunkan kami di desa apa..kami tidak ingat namanya. Karena nama yang mereka sebutkan tidak pernah kami baca di internet, di blog-blog yang menjadi referensi kami, kami akhirnya nego…

“Kalau tidak mau menurunkan kami di Denge, tolong turunkan kami di Dintor,” kata kami. Dintor adalah nama lain selain Denge yang pernah kami baca. Setidaknya kami ada referensi bisa naik ojek ke Dintor dan berapa kami harus bayar ojek. Daripada diturunkan ditengah hutan begini? Hiiiii…ngeri.

Kami diturunkan di Dintor sudah jam lima sore. Sepi. Untung ada ojek dua di pertigaan kecil itu yang mau antar kami ke Denge. Sebenarnya Dintor ke Denge sudah tidak terlalu jauh. Sekitar lima belas menit kami sudah sampai di rumah Pak Blasius dan disambut orangnya langsung di halaman rumah. Leganya.

Begitu masuk rumah…kami mendapat suguhan kopi Waerebo. Hmmmmmmmm…mata kami langsung melek dan segar kembali. Kami langsung cerita-cerita dengan teman-teman baru di situ. Ada dua gadis manis dari Jakarta yang baru turun dari Waerebo, ada pastor Martin dan Pak Guru Steve. Pastor MArtin dan Pak Guru Steve akan menjadi teman satu rombongan kami naek besok pagi jam 5. Keluarga Pak Blasius ‘membunuh’ ayam untuk makan malam kami. Yang menjadi algojo, teman baru kami dari Jakarta. He,he…Terima kasih sudah ‘mengingat’ kami yang muslim, Pak.

Kanan-Kiri: Pak Blasius, Pak Conrad, Ros, aku, dua temen baru dari Jakarta

Kanan-Kiri: Pak Blasius, Pak Conrad, Ros, aku, dua temen baru dari Jakarta


Selesai santap malam, kami bercerita dan bercanda sampai jadwal lampu padam aka jam sepuluh malam. Yups…listrik disini didapat dari panel-panel surya dan generator pribadi. Jadi musti hemat. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan dalam gelap..kami masuk kamar masing-masing. Sebagai pengantar tidur, Ka Ros mendongengiku tentang sejarah Waerebo yang baru dia baca dari buku tentang Waerebo di meja tamu Pak Blasius. Dan gayanya sudah seperti ahli sejarah saja. Tapi terus terang…aku cuma percaya 50%. Dia suka alay soalnya kalo cerita. Tidak jelas mana sejarah…mana khayalan. Seandainya ada bola kapas, mungkin sudah aku sumpal ke telinga. Hmmmmm

Night…night…

05.00 WITA

Kami berdua sudah siap di meja makan. Istri Pak Blasius menyediakan sarapan nasi goreng untuk kami. Dan ternyata, kami ketambahan anggota rombongan. Namanya Henry, mengaku dari Solo. Hm…jadi pagi ini kami akan naik ber lima ditemani Pak Conrad, adiknya Pak Blasius. Dan kami masih harus menunggu Pastor MArtin yang lagi mandi pagi. O la la…rajin banget pake mandi. Bentar lagi juga keringatan. Mungkin itu bedanya pendosa ama orang suci, bisikku ke Ka Ros. He,he..

Akhirnya jam setengah enam, kami memulai trekking ke Waerebo. Sinar bulan masih menyinari kami melewati tanjakan berbatu yang langsung gigi satu, alias nanjak gak ada putusnya. Ahaaaaaai. Pastor Martin ma Pak Guru Steve jalan sudah kayak kereta cepat buatan jepang aja. Beberapa saat, mereka dah membuat jarak yang jauh dengan kami. Kami tidak mau mati konyol kehabisan nafas dengan mengejar mereka, jadi kami menikmati irama kaki sendiri. Itu pun aku baru sadar, setelah jalan beberapa ratus meter..kok bayangan yang tadinya empat tinggal tiga biji. Noleh ke belakang, itu temen baru, Si Henry udah ngedomprok di pinggir jalan sambil ngos-ngosan. Alamaaaaaaaaaaak. Baiklah…karena kami ini baik hati sekali (ngucapinnya ditekankan banget), jadi kami tunggulah anak culun ini. Semenit…dua menit. Ok, dia bangkit lagi. Kami ajalah ngobrol-ngobrol…supaya gak terasa capek maksudnya.

“Hen..Asli Solo memang?”
“Papua-Solo sih.” Ooo

“Kuliah apa dah kerja?”

“Kerja.”

“Kerja dimana?”

“Timika.”

Hmmm, “Freeport?”

“Iya…”

“Haaaaaah…kau pasti bukan orang lapangan?” tebak Ka Ros.

“He,he…aku dikantornya!” Hah, menjawab sudah ama daya tahan jalan kaki-nya dia. Memprihatinkan pake banget. Dan..tadaaaaaaaaaa…dia berhenti lagi. Dan ini belum 50 meter lho. Ya ampuuuuuuuuuun. Bener-bener deh. Ok…kita masih baik hati. Ditungguin dong sambil selfie-selfie pake tongsis baru. Pas nafas Henry dah normal lagi…kami lanjut jalan. Jalanan masih berupa batu-batu kali yang ditata, tapi belum ditutup pasir…jadi lumayan sakit dikaki sih meski pake sendal.

Awal Perjalanan #Menuju Waerebo

Awal Perjalanan #Menuju Waerebo

Kami baru jalan 40 meter-an ketika Henry sudah hilang agi dari radar. Ternyata dia muntah sodara. OMG. Betul-betul muntah, mengeluarkan seluruh sarapan paginya. Wajahnya putih..pucat. Waduh…gawat nih kalo sampe pingsan. Gimana dia gak muntah…dia minum kami lihat sudah kayak unta saja. Dua botol yang dia bawa sudah habis.

“Jangan banyak-banyak minumnya Henry! Perutmu sakit nanti!” teriak Ka Ros.
“Gak pa pa kok…kalian duluan aja,” jawabnya sok banget. Kayak yang kami ini setega itu. Santai saja Bro…kami tungguin kok. Pantang bagi kami ninggalin temen di jalan (tapi kami juga ogah kalo disuruh balik kucing ke Denge).
“Pak…kira-kira, kalo jalannya seperti Henry ini, jam berapa ya kita sampai Waerebo?” tanya Ka Ros sambil bisik-bisik ke Pak Conrad, si Pemandu.

“Waaaaaaah…saya juga tidak bisa memperkirakan kalau begini,” jawab Pak Conrad sambil menggeleng prihatin.
“Ada gak, selama bapak jadi pemandu nih…orang lain yang jalannya selambat Henry?”

“Tidak ada…dia ini yang paling lambat.”

Untungah sebelum Henry putus asa dan memutuskan balik pulang, dan setelah melalui serangkaian istirahat setiap limabelas meter karena nunggu Henry, kami sampai juga di jalanan mendatar dan bahkan menurun. Turunan ini berakhir di sebuah sungai dan jembatan, dan ini merupakan akhir dari jalan berbatu. Diseberang jembatan kecil itu, ada pos 1. Horeeeeeeeee…nyampe juga di pos satu setelah henry menciptakan banyak pos bayangan antara rumah Pak Blasius dan Pos ini. Apalagi Pak Conrad bilang, yang susah memang jalan berbatu ini. Setelahnya nanti jalan tanah, lebih enak jalannya.
Bagaimana Henry? Lebih enak lho jalannya…

Di Pos satu kami beristirahat sebentar. Minum….foto…Pak Conrad bahkan merokok. Merasa cukup mengumpulkan tenaga, kami jalan lagi. Pak Conrad mempersilahkan kami jalan duluan, dengan pesanan jalan lurus saja tidak usah menyimpang. Ok deh Pak.

Pos satu

Pos satu

Jalan setelah pos dua ini berupa jalan setapak…dan meski semalam tidak hujan, karena cahaya matahari tidak menyentuh tanah karena rimbunnya pepohonan, suasana jalan agak lembab dan jadi agak licin. Ada beberapa pacet terlihat dijalan…tapi tidak sampai mengganggu. Padahal Ka Ros dah siap karet tali buat ngikat bawah celana biat Pacet gak sampe masuk. Dan yang dibilang enak jalannya ama Pak Conrad itu…gak tau deh, definisi enak itu seperti apa. Tapi ini jelas tidak ada enak-enaknya sama sekali. Jalan sempit (emang gak ada sih jalan lebar di gunung), licin, dan nanjak. No bonus. Setiap dari kami kalo lihat tikungan, bergegas pengen sampai di ujung. Bukan apa-apa…kami semangat banget ngintip, apakah ada jalan mendatar atau syukur-syukur menurun setelah tikungan. Tapi harapan hanya tinggal harapan. Jawabannya masih…naik…naik…dan naik. Dan sepertinya, kali ini..kami semua sepakat untuk menciptakan banyak sekali pos bayangan. Bahkan setiap seratus meter kami istirahat. Kami tahu persis itu seratus meter karena orang-orang lokal membuat patok-patok yang menyatakan masih berapa jauh kami dari Waerebo. Dan yang membuat kami ilfil adalah..tuh angka terteranya masih ribuan. Yang artinya jarak yang harus kami tempus masih hitungan 4 kilometer-an. Pengen deh aku tendang saja tuh patok menyebalkan. #Ops!
Ditengah-tengah pemberhentian yang tidak tahu lagi ke berapa…ada timbul harapan baru. Pak Conrad menunjuk ke atas…ke titik batu putih di kejauhan.

“Itu…yang putih kelihatan dari sini itu pos dua.”
Haaaaah…Pos dua. Bentar lagi nyampe dong. Dari Denge ke Waerebo itu ada tiga pos resmi (pos bayangan yang kami buat tadi gak sah dihitung ya prend). Nah itu pos dua, kalo kami sudah bisa melihatnya…artinya itu pos sudah gak jauh lagi kan? Jadi…hayoooo, cepetan.
Kami kembali bersemangat mengayunkan kaki. Apa daya…antara kemauan dan tenaga bener-bener tidak ada kata sepakat. Kami tetap saja berhenti setiap seratus meter. Dan yang lebih parah, kali ini kami dilarang berpegangan ama tanaman di pinggir jalan. Karena kata Pak Conrat, didaerah situ ada tumbuh banyak tanaman yang menyebabkan gatal. Nama tanamannya, Lanteng. Jadi kalau sampai kita terkena daun lanteng ini, siap-siap saja gatal selama enam bulan. Gatal yang menetap. Dan saking gatalnya, kita akan terus menggaruk daerah itu sampai terluka. Ih…amit-amit. Bener banget kalo Pastor Martin tadi mengingatkan kami buat bawa tongkat. Alih-alih tongkat kayu, kami bawa tongkat narsis malah. #Gayatidakpadatempatnya.

Dan dimanakah batu putih itu? Kenapa kami tidak nyampe-nyampe juga? Udah beratus-ratus meter kami jalan, tapi batu putih itu seperti menghilang. Jangan-jangan itu batu putih dah pindah tempat saking jengkelnya ungguin kami yang gak datang-datang, gerutu kami diantara istirahat untuk kali yang gak keitung.

“Itu…dua puluh meter lagi. Di kelokan itu…dikit lagi dah pos dua,” jawab Pak Conrad sambil tersenyum, nunjuk sebuah kelokan diujung jalan. Buset dah…itu mah bukan 20 meter kali ya. Lebih. Baiklah Pak…mari kita hajar itu dua puluh meter versi bapak.

Satu dua…satu dua…satu dua….

Setelah kami melet-melet mencoba melewati itu tanjakan, akhirnya batu putih kelihatan. Aaaaaaaaaaaaak…nyampe juga di pos 2!!!! Selamat…selamat!!! Kami hebat!!! #jogetlandak.
Pos dua ini cuma sebuah tikungan yang tepinya diberi pagar beton. Kenapa? Karena menurut Pak Conrad, dulu banyak bule-bule yang nongkrong sambil ongkang-ongkang kaki di tepi jurang ini. Masyarakat setempat ngeri melihat kelakukan mereka maka dibangunlah pembatas ini. Hm…baik hati ya mereka ni. Dan kejutan muncul di pos dua ini. Iya, kami menemukan Pastor Martin dan Pak Guru Steve menunggu kami disitu Aduh Pastor..kami pikir Pastor Martin ama Pak Guru Steve udah main tali di kampung Waerebo. He,he..
“Kalian ini bagaimana? Kami sudah kehabisan cerita, sudah selesai membuat puisi..kalian tidak muncul juga,” ledek Pastor Martin. Ha,ha…maaf Pastor, kami terlambat. Siksa saja Henry…dia biang keroknya.

Bentar ;agi pos dua yaaaaaaaaaaaa... #Mana?

Bentar ;agi pos dua yaaaaaaaaaaaa… #Mana?

Pastor ma Pak Guru memberikan kami istirahat sekitar lima belas menit sebelum akhirnya kembali mengangkat ransel dan mengajak kami kembali jalan. Merasa tenaga sudah sedikit pulih, nafas sudah teratur dan halus kembali, dengan riang kami pun beranjak. Jangan kalian tanyakan itu Pastor Martin ma Pak Guru STeve…mereka kembali sudah hilang di kelokan jalan. Hadewwwwwwww, cepet nian mereka ni. Tapi kami memang akui…secepat apapun kami berupaya melangkah, tak akan bisa mengejar kecepatan mereka. Jadi daripada kecewa…mari kita kembali menikmati irama kaki sendiri. #Upaya menghibur diri.

Beberapa ratus meter melangkah…sayup dikejauhan terdengar teriakan riang. Selintas mirip suara burung. Pak Conrad tak kalah riang menyahut dengan suara-suara seperti burung juga. Kami pikir itu suara para pemandu, dengan kode-kode atau sandi-sandi tertentu. Bahasa mereka.

“Ada tamu lagi yang naik, Pak?” tanyaku.

“O..itu suara anak saya yang kecil. Si Andrianus. Dia nyusul sama mamanya dari Kombo pagi tadi…,” jawab Pak Conrad santai.

“Umur berapa, Pak?”

“Empat tahun?”

Glodak!!! Empat tahun?!!!

“Digendong mamanya, maksudnya pak?”

“Jalan sendiri…”

Sampai disini saya tidak tega bertanya lagi. Tidak tega menhancurkan harga diri sendiri karena langkah kami kalah dengan si kecil Andrianus. Dan kami semakin bergegas melangkah. Bertekad tidak mau didahului si kecil itu. Malu-ku ditaruh mana???
Tapi itu tanjakan kenapa tidak kelihatan tanda-tanda mencapai akhir ya? Kata Pak Conrad, selepas pos tiga…jalan akan mendatar. Bahkan kemudian menurun sampai ke Waerebo. Mana pos 3? Mana? Masih jauhkan engkau pos 3? Kurang 1000 meter? Seribu meter itu satu kilo kan? Perasaan sekilo itu sih gak jauh (bayangin pake motor), dan gak bikin capek (bayangin pake ojek).

Dan suara-suara si Andrianus kok makin jelas aja nih. Padahal kami gak berhenti jalan lho…(berhenti kalo sebentar gak diitung kan?). O o…meski gagal dengkul, nafas udah gak jelas lagi iramanya..kami terus melangkah, pelan. Air botolku yang pertama dah habis…tapi tadi sebelum pos dua, dah diisi air gunung yang mengair dari celah-celah batu. Si Henry…dah gak keitung deh itu botol ke berapa? Ka Ros…bahkan ngutang air ma aku.

Akhirnya….pos tiga pun kelihatan. Dan kami merasa jadi juara. #Hueeeeeeek

Seperti yang lain-lain…pos tiga ini pun hanya belokan jalan. Sisi kiri tebing, sisi kanan jurang…yang kalau kita melihat ke sisi kanan, jauh…sejauh mata memandang, yang terlihat adalah hijaunya hutan, lembah dan punggung-punggung gunung. Kabut menutup sebagian besar puncak-puncaknya.

Disini lah akhirnya kami harus menyerah…Si Andrianus macam kancil saja berjalan melewati kami. Bercanda sebentar dengan ayahnya…trus lempeng aja jalan sambil bawa kresek hitam yang katanya berisi semua biscuit kesukaannya yang dibeli di Kombo. Mamanya ikut jalan dibelakangya. He,he…kayaknya Henry yang paling ‘tertampar’. Secara dia badan gedhe…bawaan cuma botol minum doang…eits, aku belum cerita kan kalo tas nya yang segedhe gaban itu dibawain ma Pak Conrad? Iya..jadi dia sebenarnya cuman lengang kangkung doang.
#BenerbenerprihatinliatHenry.

Kami tidak berhenti lama di Pos tiga karena si Andrianus manggil-manggil kami. “Ayo…ayo…!” katanya riang sambil berlompatan diantara batang-batang kayu yang melintang menghalangi jalan. Gemes dengan diri sendiri…kami maksain buat jalan. Dan alhamdulillah, jalurnya semakin manusiawi disini…meski ada sedikit nanjak…tetapi kebanyakan sudah mendatar. Dan bahkan beberapa menurun….terus menurun. Nah ini berarti sudah mulai dekat dengan kampung Waerebo. Kulihat itu patok sudah nunjukin 700 meter. Yaaaiiii…gak sampe sekilo lagi, Rek. Kami berpapasan dengan beberapa orang yang baru turun dari Waerebo…rupanya mereka menginap disana. Selalu mereka kasih semangat, “Ayo…dikit lagi.” Bahkan ada yang bilang begitu sambil kasih tanda jarak sesenti antara jempol dan jari telunjuknya. Menggemaskan.
Jalanan terus menurun…membuat Henry bahagia banget. Ho,ho…jalanan menurun itu artinya nanjak pada saat kami pulang. Huaaaaaaaaa…bikin mangkel bayanginnya, mending gak sah dipikirin.

Kami mikir Waerebo saja…apalagi rumah panggung mirip gazebo yang kami tunggu-tunggu dah ada didepan mata. Inilah spot terakhir kami diijinkan mengambil gambar. Setelah melewati gazebo ini, kamera musti masuk ke tas, tidak boleh motret apapun sampai dengan upacara adat penerimaan tamu dilakukan.

Pak Conrad membunyikan kentongan yang ada disitu, untuk memberitahu ke warga Waerebo kalau ada tamu yang datang berkunjung. He,he…seperti kembali ke masa kerajaan. Kami memanfaatkan mengambil foto desa itu dari titik ini. Masih boleh kan? Dan kami baru tahu isi tas Si Henry. Segala macam kamera ada. Mulai DSLR, underwater, smartphone, tablet, tongsis….Rempong kan? Sekarang ngapain coba ke Waerebo bawa kamera underwater? Mau nyelem dikali? #Gagalpaham.

Kaki kami yang gatal untuk segera masuk kampung mencegah kami untuk lama-lama istirahat. Bergegas kami berlompatan turun dari gazebo dan turun melintasi kebun kopi menuju perkampungan. Ada semacam pintu masuk terbuat dari bambu sebagai gapura. Trus halaman rumput yang luas…ditengahnya ada altar pemujaan dari batu yang bentuknya melingkar. Disekelilingnya, di pinggir halaman rumput yang luas itu…berdiri kokoh 7 buah Mboru Niang. Seperti kastil-kastil yang ada dipuncak gunung dalam film disney…Waerebo dengan Mboru Ninang yang ada di antara gunung-gunung ini menciptakan dongengnya sendiri. And it’s sooooooooooooooo beautiful.

Kami diajak Pak Conrad menemui ketua adat dulu…namanya Pak Alex. Pak Alex ini menyambut kami dengan ramah…mengucapkan lantunan doa dalam bahasa lokal dengan maksud supaya kami diterima oleh para leluhur mereka, dianggap saudara dan tidak diganggu.

Waerebo #Negeri Dongeng

Waerebo
#Negeri Dongeng

Ya…dalam adat masyarakat Waerebo, mereka percaya dengan keberadaan para leluhur. Bahwa para leluhur selalu bersama mereka, menjaga mereka. Mboru niang itu boleh saja dalam kasat mata jumlahnya tujuh. Tapi menurut Pak Blasius, dalam masyarakat Waerebo, Mboru niang itu ada delapan. Jadi kalo ditarik garis imaginer dari batu altar di tengah lapangan ke ketujuh mboru niang, ada bentuk seperti jaring laba-laba. Dan di penjuru mata angin yang ke delapan itu kosong, tidak ada bangunan fisik Mboru Niang. Tetapi kata Pak Blasius…dalam kepercayaan masyarakat Waerebo, bangunan Mboru Niang ke delapan itu ada. Dan itu tempati oleh para leluhur. Makanya kenapa mereka tidak berupaya membangun satu lagi mboru Niang untuk menggenapi karena sebenernya mereka mengganggap yang ke delapan itu ada, hanya tidak terlihat mata.

Selesai upacara penyambutan…kami keluar dari rumah besar, diajak ke rumah penginapan. Bentuknya sama…hanya saja rumah penginapan ini diperuntukkan untuk menerima tamu atau untuk tidur para tamu kalau menginap. Ada lima tingkat dalam Mboru niang. Tingkat teratas (kelima) untuk sesembahan bagi leluhur dan tingkat paling dasar untuk kegiatan sehari-hari. Setiap tingkat ada fungsi dan namanya masing-masing…dan kami tidak ingat namanya. #Susahdiucapinpakelidahjawa. Disini kami bertemu dengan Pastor Martin dan Pak Guru Steve yang sudah dijamu makan siang. Walaaaaaaaah…enaknyo.

Di rumah penginapan ini kami disuguhi pisang dan kopi Waerebo yang….hmmmmmmmm, nikmat banget. Warga Waerebo ini kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani kopi. Kami melihat banyak kopi dijemur di halaman rumah. Ada jenis arabica, robusta dan columbia. Dan kalian kalau kesana harus mencobanya seperti kami. Nagih banget rasanya.

Pak conrad bilang kami boleh keliling-keliling dilingkungan perkampungan Waerebo…boleh ambil gambar asal tidak menginjak altar sembahan ditengah lapangan karena itu disakralkan. Ok…lets messing around!

Gak ada judul

Gak ada judul

Kami bertiga, yang dah merasa segar terdopping kopi waerebo, langsung hunting foto mulai dari halaman sampai dapur. Ngobrol ma orang-orang disana, mulai nenek-nenek ampe anak-anak. Anak-anak ini dibawah usia sekolah semua. Karena begitu mereka masuk usia sekolah, mereka akan turun ke Denge atau Kombo untuk sekolah. Dan anak-anak ini rame sekali. Penuh rasa ingin tahu. Pengen ikut jepretin kamera. Dan aku sukses membuat anak-anak berantem gara-gara rebutan kamera. Bahkan satu anak sampai nangis karena berantemnya pake baku pukul. Aduuuuuuuuuh! Stoooooop! Ada yang mau permen?!, teriakku mengalihkan perhatian. Dan semuanya angkat tangan. Aku lari masuk penginapan, mengambil permen dari tasku. Dan begitu keluar lagi…O Tuhan, kenapa sekarang anak-anak itu jadi banyak ya. Takut gak cukup, coba kuintip kotak permenku…masih banyak. Ok, satu-satu aja.

Dan anak-anak itu aku tidak pernah hafal mana yang kuberi, mana yang belum. Tanga- tangan yang menengadah itu serasa terus ada sambil bilang, “Saya belum..”. Aduuuuhh, masa iya sih sebanyak itu anak-anak ini.

“Saya belum…”

“Coba buka mulut,” pintaku sebelum memberi permen. Dan banyak dari mereka ini yang udah ada permen dilidahnya. Dasaaaaaaaaaaaaaar!!!

Anak-anak Waerebo

Anak-anak Waerebo

..

Kelar bermain ma anak-anak disana, kami ganti mengganggu ibu-ibu mereka yang lagi menumbuk kopi. Mama-mama itu mengolah kopi mereka secara tradisional. Ka Ros bahkan bergaya…bantuin numbuk pake alu ama lesung itu. Dan itu biji kopi sukses berhamburan kemana-mana. Week, dijamin rasanya nanti gak karu-karuan kena tangan Ros Ginting. Apa sih yang enak ditangan dia selain rendang dan teri kacang? #sambilmelet

Nyoba jadi petani Kopi? #Gagaltotal

Nyoba jadi petani Kopi? #Gagaltotal


Tengah-tengah kami asyik ngerecokin Mama-mama numbuk kopi, pak Conrad manggil kami ke rumah penginapan untuk makan siang. Kebetulan, Pak…kami lapar pake banget. Semua energi sarapan tadi pagi habis tak bersisa..minus malah, terkuras saat mendaki. Semangat empat lima kami menuju rumah penginapan. Sudah menunggu kami di atas tikar pandan, nasi putih masih mengepul, sayur bening pucuk labu, telor dadar, kerupuk, dan sambal secawan kecil. Kami ini yang suka pedes sedikit kecewa dengan sajian sambalnya yang cuma sedikit.

Tanpa sungkan setelah dipersilahkan, kami menyenduk nasi dan sayur ke piring masing-masing…tak lupa lauk dan sambal. Suapan pertama….aku langsung menggapai-gapai, cari air putih. Henry pura-pura tidak tahu apa yang aku butuhkan. #Pengennendhang. Itu sambal ya ampuuuuuuuuuuuuuuuun…pedhesnya amit-amit. Ini cabe apaan sih yang dipakai. Sumpah, seumur hidup…ini sambal terpedas yang aku pernah makan. Menyesal juga tadi dah menganggap remeh. Pantas itu para mama cuma kasih sedikit. Kalo dikasih banyak, kami bisa diare kali ya.

Makan siang ini sederhana banget, tapi nikmat. Faktor pertama pasti karena kami semua pada kondisi lapar. Yang kedua…makanan ini fresh from tungku. Iya, dimasak pake kayu bakar. Yang ketiga…susananya. Coba bayangin, lo padha laper, trus makan ditengah bale Mboru Niang yang adhem, disuatu kampung yang mirip dongeng, di suatu tempat yang mirip cerukan dikelilingi gunun-gunung, sejauh mata memandang…terlihat hanya warna hijau.
#Ngilerkan?

Setelah makan siang, kami mengisi buku tamu disitu. Dan namaku tercatat sebagai tamu ke 738 tahun ini, Ka Ros ke 739 dan Henry ke 740. #Bangga ih. Setelah makan, kami bersiap untuk turun. Kami memang tidak berencana menginap karena kami mengejar otto ke Ruteng besok dini hari. Kami akan kembai nginap di rumah Pak Blasius.

Setelah beberes, tas Si Henry kembali berpindah ke pundak Pak Conrad. Kami berpamitan dengan Mama-mama di rumah penginapan dan menuju halaman. Kami masih menyempatkan mengambil foto di sesi-sesi akhir kunjungan kami. Terakhir..dipintu gerbang, kami minta Pak Conrad ambil foto kami bertiga. Dua kali jepreten dengan latar belakang ketujuh Mboru Niang. Trus kami juga ambil foto bertiga menggunakan tongsis Ka Ros. Kelar, kami pun kembali menapaki jalan setapak melintasi kebun kopi. Pulang.

Sebelum pulang

Sebelum pulang

Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba ada alarm berbunyi. Awalnya aku pikir suara hape. Tapi kan gak ada sinyal? Ternyata itu alarm dari hape Ka Ros. Ka Ros heran…lho, kan gak nyetel alarm? Nyetel alarm-nya tadi pagi kan? Tadi pagi malah gak bunyi. Kami bangun karena aku kebangun jam empat pagi lewat dikit. Trus, kata Ka Ros…itu alarm sedang dalam posisi off. Dalam arti tidak dalam posisi aktif. Kok?

Walaaaaaaaaaaah…Bismillah, semoga kami selamat sampai rumah.
Sepanjang jalan kami bercanda, berusaha tidak mengingat kejadian tadi. Si Henry malah godain para tamu yang naik dengan mengatakan, “Ayo…sudah dekat. Dikiiiiiiiiiit lagi…”. Hm…bisa begayo dia sekarang. Coba ingat tadi pagi?
Perjalanan turun ini cepat sekali. Bahkan tidak terasa..kami sudah sampai saja di pos dua. Disitu kami papasan dengan para kru Trans 7 yang lagi istirahat dan menuhin rest area. Kami tidak istirahat disini, dan terus jalan. Disini kami baru sadar…bahwa kami hebat sekali bisa melewati tanjakan-tanjakan ini. Tanjakan ini ternyatasangat lebih dari lumayan. Turunnya aja terpeleset-terpeleset. He,he…
Sepanjang jalan Ka Ros mewancarai Pak Conrad tentang kehidupan di Waerebo. Semangat sekali dia. Sudah mirip Desi Anwar mewancarai Dalai Lama saja. Serius banget. Taruhan berapa? Besok pagi dia sudah lupa dengan semua cerita itu…
Di pos satu…Oh…iya pos satu. Pos satu tempat si Henry memulihkan tenaga itu. Gak terasa banget udah nyampe pos satu. Disini kami ketemu serombongan anak-anak muda, belasan orang, yang baru mau naik. Mereka pikir kami nginap di Waerebo. Tapi pas kami bilang, kami naik tadi pagi dan sekarang turun…mereka riuh. Dan menjadi semangat lagi karena-nya. Maksudnya…kami aja kuat naik turun, masa mereka yang naik..trus nginap disana, besok baru turun…gak bisa? Selamat Mas Bro…masih jauh pake bingits itu. #Sttt, tentu kami gak setega itu ngomong.

Di perjalanan turun ini, yang membuatku tersiksa justru waktu kami menyusuri jalanan berbatu. Rasanya sakit semua kaki. Mana kaki sudah mulai lelah dan ngangkat telapaknya dah gak bisa setinggi tadi pagi…alhasil sering banget terantuk batu-batu di situ. Hm, ini rupanya yang dibilang susah ma Pak Conrad tadi pagi. Disini Pak Conrad juga cerita. Katanya, tadi pagi dia stress lihat kondisi Henry, da betul-betul tidak yakin Henry bisa nyampe Waerebo. Trus Pak Conrad berdoa, waktu kami berangkat duluan selpas pos satu, memohon supaya Henry diperingan langkahnya.
Dan percaya atau tidak…selepas pos satu, Si Henry bisa mengimbangi langkah-langkah kami. Berjalan dalam kecepatan normal dan lelah dalam masa yang normal. Padahal sebelumnya, haduuuuuuuuuuuuuuh…kami dah mulai mempersiapkan mental kalo harus mengantarnya balik ke rumah Pak Blasius. #Kemungkinanterburuk.

Selah jalan selama dua jam lewat dikit, kami akhirnya sampai dirumah Pak Blasius. Disambut Pak Blasius yang sedikit heran karena kami dah sampai rumah sore itu. Ha,ha…belum tahu cerita soal Henry saja.

Dirumah, sambil istirahat, kami melihat foto-foto yang kami ambil diatas. Dan Ka Ros mengagetkan kami dengan mengatakan foto kami yang di pintu gerbang waerebo tidak ada. Gelap. Hitam. Seperti tertutup jari-jari tangan. Hah? Padahal kan kami foto dengan tongsis. Tangan siapa?
Penasaran, aku lari ke kamar dan mengambil kamera sakuku. Membuka file-file foto, mencari foto yang diambil Pak Conrad dua kali di tempat yang sama. Dan aku lemes, kedua foto itu juga tidak ada.

Kami bertiga, aku, Ka Ros dan Henry hanya bisa saling pandang. Tak Mengerti.

Pacitan: Menyusuri Pantai Selatan Jawa

Tidak usah diceritakan gimana persiapan trip kali ini.
Apalagi aku, yang mendapat berita ‘menggemparkan’ di detik-detik terakhir…#Alaylagikambuh.

Alhamdulillah, dengan lobi-lobi…akhirnya semua beres. Johan beres, aku beres, bing bing beres. Meninggalkan Surabaya yang lagi hujan angin dan banjir, kami meluncur ke selatan jawa jam 7 malam. Suasana jalan ramai banget…ternyata ada pertemuan komunitas vespa di Pacitan juga. Segala macam bentuk vespa mulai yang original sampai modifikasi yang ancur-ancuran (ngelihatnya saja kami ngeri),  mengiringi kami sepanjang jalan

….

Tak banyak yang bisa kuceritakan sepanjang jalan kecuali mimpi-mimpi.  Aku hanya ingat makan Cilok di pompa bensin dekat Nganjuk, trus makan malam sebelum masuk Madiun, setelahnya hanya ingatan samar-samar saja. Maklum, Surabaya-Pacitan yang melek cuman Johan dan Ayok doang, yang lain semua ‘tewas tertembak’ ditempat duduk. Aku baru melek waktu memasuki wilayah Arjosari-Pacitan. Kenangan masa kecil melintas melihat jalur yang sempat kuakrabi karena fenomena mudik setiap lebaran ke rumah mbah. Masuk kota Pacitan kami sempat bingung..secara, aku yang jadi guide sudah bertahun-tahun gak pernah ke Pacitan. Alhamdulillah, insting sopir Johan membawa kami ke jalan yang benar dan tanpa nyasar, kami menemukan Srikandi Hotel tempat kami istirahat malam ini. Di hotel kami hanya bersih-bersih badan, sholat trus melanjutkan mimpi yang terputus.

….

Pagi gerimis membangunkan kami. Mendung. Cuaca yang sudah kami prediksi sebelumnya. Dan kami sudah mencoba menyudutkan keinginan menikmati sunset atau sunrise cantik di pantai-pantai Pacitan. #Tapibolehlahsekedarberharap. Di depan kamar hotel, ada pedagang akik. Dari keisengan, keluar juga duit buat beli bros dan gelang yang nantinya akan membuat kami ngomel-ngomel gak karuan.
Pagi itu kami isi dengan santai…beberes, trus diskusi menentukan mo kemana hari ini. Ha,ha…semakin gak jelas kan kami? Tujuan aja belum tahu. Berbekal googling pagi itu, kami memutuskan pergi ke Gua Gong (yang katanya terindah se Asia Tenggara), pantai Banyu Tibo, Pantai Buyutan dan Pantai Klayar. Yups..malam nanti kami akan bermalam di Klayar. Dealed!! Cap cus Ciiiiiiiiiiiin…

Goa Gong

Goa Gong

Goa Gong

Selintas dari luar, goa ini kecil dan tak ada istimewanya. Tapi begitu masuk ke dalam, kita akan disuguhi Stalaktit dan stalakmit yang specta. Suer! Cantik banget…seakan ukiran detailed seorang Maestro. Entah…butuh berapa juta tahun tetesan air itu membentuk motif-motif cantik sebelum akhirnya menjadi seindah saat ini. Pilar-pilar tinggi ber ‘ukir’, ‘kelambu-kelambu’ indah. Kami ini macam Alice in the wonderland. Takjub! Subhanallah! Saking penasarannya, itu pilar-pilah aku sentuh, raba…meyakinkan diri itu bukan luksan. He,he…Ndeso!.

Dan odhong-odhongnya kami, tidak bawa senter. Ada bawa headlamp, malah ketinggalah di mobil. Hadewwwww!!. Tapi banyak kok yang nyewain senter di sana. Cuman 5 ribu/ senter, hitung-hitung berbagi rejeki.

Keluar dari Goa, kami disuguhi deretan penjual batu akik. Tidak usah dibayangkan akan seperti dukun kalo pakai akik…batu-batu ini sudah didesign untuk berbagai model hiasan modern. Mulai dari cincin, gelang, kalung, bros, anting. Dan harganya muraaaaaaaaaaaaaaaaah. Bros batu akik bisa dapat 15 ribu untuk 2 bros. Gimana kami gak merasa ketipu kalo kami beli di depan hotel seharga 20 rebu per 1 bros. Bikin ilpil kalo inget. Huh! #Mukaditekuk

Banyu Tibo

Ini destinasi kedua kami. Dari Goa Gong, kami lurus ke arah selatan…arah Klayar. Tapi sebelum Klayar, di Pasar (aku lupa namanya), kami belok kanan. Jalanan sudah berasapal. Lumayan. Lepas jalan beraspal…digantikan jalan bersemen selebar roda mobil. Disini tidak ada retribusi resmi, hanya retribusi seikhlasnya. Nah, rupanya…ditempat retribusi ini, kalau ada mobil masuk akan dikomunikasikan ke petugas di pantai. Jadi mereka akan stop semua mobil yang akan kembali (melawan arus). Kenapa? Karena jalanan cuman bisa satu mobil aja. Model buka tutup gitu deh. Nah kan, bukan cuma puncak yang mengenal metode buka tutup.

Boleh jadi foto kalender ini...Hmmmm

Boleh jadi foto kalender ini…Hmmmm

Banyu Tibo relatif sepi. Ada beberapa orang, sepertinya dari komunitas vespa yang tercecer sedang menikmati air terjun mini sambil goler-goleran di Pasir Banyu Tibo, macam putri duyung nyasar.  Kami seperti biasa…melipir mencari tempat sepi. Sama ibu warung dekat situ, kami dikasih tahu, bisa lewat karang-karang untuk sampai di pantai mungil sebelah. Okelah…mareeeeeee. Dan betul, di pantai mungil ini…tak ada manusia satu pun. Jadi kami bebas ha,ha,hi,hi…dan bernarsis ria, memaksa Ayok pasang tripod. Ombak cukup besar…tipikal pantai-pantai selatan. Jadi kita cuman ngedomprok aja di pasir, menikmati sunyi. Selama ada pasie pantai nganggur, kami sepertinya akan asik-asik saja. Apalagi ditemani kamera…plus tukang jepretnya. #Narsis kami sudah sangat kronis.

Banyu Tibo-Sisi Kiri

Banyu Tibo-Sisi Kiri

Sudah tidak ada lagi pose yang bisa di explore, kami  cabut meneruskan perjalanan ke Buyutan. Perjalanan ke Buyutan…yang sebenarnya masih satu garis pantai dengan Banyu Tibo, tidak jauh beda. Jalanan sempit. Tapi yang membuat menarik adalah, kami melewati area persawahan yang hijau. Adheem dimata. Sepertinya baru lepas musim tanam padi, jadi di sepanjang jalan, banyak petani sedang kerja keras menyiangi rumput. Dan, diujung area persawahan itu (semacam ditepi tebing), muncullah Pantai Buyutan. Unik kan? Johan aja bingung…Pacitan ini sebenarnya area pegunungan atau pesisir pantai? He,he…dua-duanya. SO welcome to Pacitan, Jo!.

Hijau #Masih di Buyutan-Pacitan

Hijau
#Masih di Buyutan-Pacitan

Ikon Buyutan adalah batu karang di tengah laut (dekat pantai) yang kalau dilihat dari jauh mirip mahkota raja. Menurut cerita…itu mahkota Batara Narada yang jatuh. #Efekkebanyakannontonmahabarata #ColekRoslina.

It's me. #gayaku

It’s me.
#gayaku

Buyutan lebih sepi daripada Banyu Tibo…tapi garis pantainya lebih panjang. Untuk menuju ke pantainya, kami harus berjalan kaki ke bawah sana. Mobil parkir ditepi sawah. Ajib bingits. Hanya membayangkan ini musim kemarau, pasti sangat spectakuler bias sunsetnya. Warna hijau sawah dan tebing, berpadu dengan beige pasir pantai membuatku ‘jatuh cinta’ dengan pantai ini.

Dan di pantai ini kami kumat gilanya.

Maksudnya begini teman, …masig-masing dari kami  ini kalo difoto punya pose favorite. #Bahkan yang punya gaya aja mungkin gak nyadar.

Lets check!
Bingar: ekspresi muka tertawa (mringis) atau kaget, satu tangan menyentuh kepala
Johan: Kepala tegak, dagu diangkat, senyum ‘mesum’

Ka Ros: kacak pinggang atau kedua tangan membentuk kode V…sering dengan sun glasses terpasang

Ayok: Kaki ngangkang…hadap kedepan, wajah serius,  kedua tangan menarik kaos ke arah luar atau telapak tangan posisi di depan pinggang dalam posisi terbuka ke atas (piye jal le mbayangne…)

Arum: Hmmmmmmm….bervariasi sih. Gak ada satu gaya khusus. #Adayangprotespasti

….

Nah…disini kami berlima mencoba menirukan gaya teman kami masing-masing. Hasilnya? Cek foto-foto kami ya. Siapa yang paling mirip dengan siapa. Gara-gara ini, Johan gak bisa difoto sendiri tanpa tertawa. Haaaaaah, pasti baru sadar kalo posenya ternyata itu-itu saja.

Gaya Ayok. #Siapapalingmirip?

Gaya Ayok.
#Siapapalingmirip?

Kelar ngakak di Buyutan…kami meneruskan perjalanan ke Pantai Klayar. Jalan ke arah klayar relatif lebih lebar dan lebih bagus dibanding dua pantai sebelumnya. Hm…mungkin ada hubungannya dengan kunjungan mantan Presiden SBY yang pernah ke pantai ini. O’ya…Klayar ini terkenal juga dengan seruling samudranya. Jadi kalau ombak lagi besar, dari celah-celah batu karang, akan ada semburan air ke arah atas. Macam air mancur.
Kami sampai di Klayar sudah menjelang senja, sesuai rencana, kami ingin menikmati sunset di sini. Di dekat pantai sudah berdiri banyak homestay sederhana tapi cukup nyaman untuk sekedar istirahat dari hiruk pikuk Surabaya. Aku sudah pesan 2 kamar melalui Pak Tarno, yang nomornya aku dapat dari komunitas Backpacker Indonesia. Pantai klayar jauh lebih ramai dibanding pantai-pantai sebelumnya. Dan kami pun, yang tidak menyukai keramaian, ditambah hujan yang mulai turun,  langsung masuk ke warung untuk membeli makan. Pasti cacing-cacing di perut Ayok dan Johan sudah demo karena gak diberi makan sejak siang. Dan kekangenanku akan tiwul, kelong dan layur terpaksa harus ditunda karena dipantai ini yang banyak dijual malah mi instant. Ampun deh!
Sambil makan, aku kebingungan.
Masalahnya adalah tidak ada signal untuk sekedar sms atau telpon. Trus?
Padahal, aku diminta menghubungi Pak Tarno kalo dah sampai Klayar. Trus?

Dan guobloknya…aku tidak menanyakan apa nama homestay nya. Odhong-odhongnya Johan dah mulai menular ke aku kayaknya. Cek! jangan terlalu deket ma Johan, ntar ketularan.
Sama ibu warung dikasih tahu, kalau cari signal musti naik ke atas bukit karang di dekat pantai. Aku ditemani Ka Ros ma Ayok pergi kesana, dan emang bener…signal langsung muncul, penuh! Alhamdulillah…akhirnya tersambung ma Pak Tarno. Pak Tarno bilang, nama homestaynya ‘Larasati’. Aku nyaris loncat seneng, karena…homestay larasti itu  dah kami lewati itu, sempet kami incer, ‘kayaknya asyik nih kalo nginep disitu.’ Dan o la la…beneran kami nginep di situ ternyata.
Kami bergegas turun, dan mengajak semua balik ke ke atas, ke penginapan saja. Toh hujan sudah mulai turun..gak bakel dapet sunset. Dan pantai terlalu penuh orang.

Penginapan larasati ini terdiri dari bangunan utama dan beberapa pondok terpisah. Total 12 kamar. Kami kebagian dua pondok yang menghadap pantai. Murah, bersih, keren pemandangannya. Sip bingits! Habis maghrib, Pak Tarno, pemilik penginapan nyamperin kami di pondok. Sempet ngobrol ngalor ngidul soal penginapannya…gimana awalnya hanya dia yang mendirikan homestay di area itu, bahwa dulu yang sering nginap hanya fotografer yang berburu sunrise dan sunset di Klayar. Memang kami lihat, sekarang di sekitar homestay Pak tarno banyak berdiri homestay-homestay lain. So…kalian kalau ke Klayar gak sah bingung mau nginep dimana. Ada banyak penginapan disana.

Larasati homestay #Klayar-Pacitan

Larasati homestay #Klayar-Pacitan

aku ma Ka Ros berangkat tidur lebih awal…Ka Ros masih teriak-teriak manggil Bing bing supaya balik kandang, tapi akhirnya aku gak denger apa-apa. Bangun tengah malam, tersadar tidur tanpa selimut. Selimut dikuasai Bingar yang tidur di tengah. Gak ngefek sih…udara a bit cold, tapi masih nyaman tidur tanpa selimut kok. Ku set weaker jam 4 lewat seperempat, supaya gak kesiangan ngejar sunrise. Maklum, kami harus jalan kaki ke arah timur pantai sana.

…4.15

Jeritan weaker membangunkanku, memaksaku beranjak ke kamar mandi buat ambil wudhu. Selesai sholat subuh, Ka Ros sudah ketok-ketok dinding kamar sebelah di iringan nyanyian merdu, “Banguuuuuuuuuuuuuuuuun !!!!”.
He,he…kami bertiga, dengan semangat empat lima mengenakan jaket, membuka pintu daaaaaaaaaaaan….Hujan Sodara!!! Haaaaaaaaaaaaah, salah masa memang datang ke Pacitan musim hujan begini. Sesuai prediksi tapi ya….tetep kuciwa lah.

Yang gak kecewa dengan hujan pagi itu pasti Ayok ma Johan. Dengan penuh syukur, mereka kembali tidur. Meninggalkan kami yang gondhok. Dengan sabar kami menunggu hujan reda. Untung hujan pengertian banget dengan rasa penasaran kami. Secara, kami belum ke pantai sama sekali sejak sampai Klayar. Malas jalan, Ka Ros maksa Johan bawa mobil buat turun ke bawah. Mobil kembali di parkir di tepi pantai, kami lanjut jalan kaki ke arah timur. Klayar sudah menggeliat dengan aktifitas. Banyak jasa ojek ditawarkan untuk yang malas jalan kaki ke arah Seruling laut. Kami? Jalan kaki wae lah. O ya, pantai Klayar ini bukan tempat untuk berenang. Too dangerous ombaknya. Tulisan ‘dilarang berenang’ bertebaran dimana-mana. Area seruling laut berada di antara bebatuan karang di Klayar bagian timur. Area ini diberi pembatas sehingga pengunjung gak bisa seenaknya keluar masuk. Ada retribusi yang harus di bayar untuk ke area itu, 2000/ kepala. Sayang, musim hujan ombaknya kecil jadi seruling laut yang muncul pun debitnya kecil. Meski begitu cukup membuat basah kuyup orang-orang yang berkumpul di sekitarnya.

Dari cerita…ada beberapa wisatawan yang sering terbawa ombak di area ini. Katanya, kalau ombak lagi besar, sering menghantam area tempat kami berdiri saat ini. Dan kebanyakan yang hilang itu laki-laki. Nah lo! Hati-hati Yok, Jo…
Di spot ini kami hanya foto-foto. Bahkan kami berhasil memaksa Ayok motret kami dengan payung. Ha,ha…eneg banget kayaknya dia liat kita berpose dengan payung ijo kami.

Penampakan pantai Klayar di pagi mendung

Penampakan pantai Klayar di pagi mendung

Tak ada lagi yang bisa dinikmati, kami kembali ke pantai dan memutuskan naik ke atas tebing, ke camp site dipuncak tebing. Ternyata diatas banyak bikers ngecamp. Motornya juga dibawa ke atas. Alhasil, dibutuhkan perjuangan extra waktu turun karena jalanan licin paska hujan pagi itu. Tidak lama kami disana sebelum memutuskan bergegas turun. Perut kami dah mulai berdangdut ria, teriak minta diisi. Sampai di penginapan, Bing bing dan aku sempet ngintip menu di dapur. Ada tempe goreng, urap, mie pedas…hmmmmmm, lapar bro.

Kami harus menahan lapar sampai selesai mandi. Rasanya kagak sopan amat ya ama si Nasi, dimakan sebelum mandi. Jadi kami balik kamar dulu, membuat diri berasa kece dikit dengan siraman air kamar mandi dan sabun. Sedikit wangi, kami balik lagi ke bale, dimana menu prasmanan manggil-manggil dari tadi. Hm…nasi putih masih mengepul panas, urap, mie goreng pedas, tuna goreng, tempe goreng, sambel bawang. Mantab! #Ops, jangan ngiler disini ya. Kami makan dengan bersila di bale situ, ada meja-meja pendek yang memang disediakan untuk lesehan. Dan sumprit kami menyesal banget ambil tempe goreng cuma satu. Enak pangkat sebelas, Cin, tempenya. Itu tempe bungkus daun jati, yang digoreng utuh tanpa dipotong. Masih hangat lagi. Bikin nelen ludah kalo inget.
Selesai makan, kami menyelesaikan pembayaran homestay, balik ke kamar, packing lagi. Yups…kami akan meninggalkan Klayar menuju Pantai Watu Karung dan Srau sebelum ke Pantai Teleng untuk cari Thiwul dan ikan Kelong. Menurut penjaga homestay dan Pak Tarno, jalan ke Watu Karung dan Srau susah. Pak Tarno sih gak menyarankan. Tapi, …mana mau sih kita dilarang sebelum membuktikan sendiri. Nah, kalo dah kejeduk kayaknya baru ngeh. Jadi…kami pun tancap gas ke Watu Karung.
Jalannya emang rusak, tanjakan dan turunannya juga lumayan, tapi sebenarnya yang membuat perut kami sakit dan kaku itu ulah Johan dan Ayok yang sudah semakin aneh. Sepertinya, dua orang itu kalau terus dibiarkan berdekatan akan menjadi semakin kronis, kata Bingar dengan nada galau. Yah, kita doakan saja supaya mereka kembali ke jalan yang benar, bisikku. #Turut prihatin dengan kondisi mereka berdua, baik secara fisik maupun psikologis. #Peace, Bro!

Watu Karung.

Watu Karung-Pacitan

Watu Karung-Pacitan

Tidak tahu kenapa namanya begitu. Mungkin karena banyak batu-batu karang disini. Trus hubungannya ma Watu Karung? Karung kan bukan bahasa jawa dari Karang. #Edisibingung.

Warna pasirnya masih sama. Beige.

Hanya ada beberapa gelintir orang saja dan satu orang bule ditemani guide atau teman atau pacar…yang membuat Ayok harus berkomentar, “Dunia sudah betul-betul terbalik,” dan Johan patah hati (lagi). Kami bertiga berusaha menghibur dengan membelikan kelapa muda di situ. Jadilah kami hanya duduk-duduk di kursi bambu yang nyaman, menikmati kelapa muda, dan suara ombak.

Tolong Ayok di remove aja Bing...#Peace

Tolong Ayok di remove aja Bing…#Peace

Ombak sedang kecil, kata yang punya warung. Kalau lagi tinggi, banyak peselancar asing maupun domestik datang ke pantai ini. Pernyataan yang membuat kening cukup berkerut, skeptis. Masa sih? Pantai ini kotor dengan sampah-sampah laut yang terbawa ke pantai. Hm, coba di kelola seperti kuta, ada petugas kebersihannya, pasti ni pantai juga tidak kalah eksotis.
Swear! Ini acara ke Pantai kami tanpa keliling-keliling. Asli cuma duduk-duduk di kursi panjang dari bambu itu. Trus turun ke pasir hanya untuk take a lot of photos. Iya…gitu doang.

Gila kami sedang kambuh #GayaGeJe

Gila kami sedang kambuh #GayaGeJe

Tidak mau membuat Johan semakin depresi di situ, kami memutuskan untuk lanjut perjalanan ke Srau. Jalan ke Srau mirip jalan ke Klayar, bagusnya dah lumayan. Pantai ini dikelilingi kebun kelapa. Beberapa bukit karang ada di kanan-kiri, membuat garis pantainya terputus-putus, membentuk cerukan-cerukan pantai mungil. Panas dan kotor. #Hm, bisa gak ya pengunjung boleh rame tapi sampahnya sepi?
Kami berlima seperti biasa, menghindari ramai, berjalan melipir ke kiri, naik ke bukit karang. Di balik bukit karang yang kami daki, tersembunyi cerukan pantai dengan pasirnya yang bersih dan airnya yang sangat-sangat jernih. Sayangnya, tidak ada jalan untuk turun. Hanya tersedia sebatang bambu disitu dan seutas tali. Tadinya kami bertekad mau turun dengan manjat itu bambu. Tapi Ayok, yang mencoba turun duluan, nge-tes tingkat kesulitan, gak bolehin kami turun. Diamini ma Johan. Katanya sih sulit banget, bahaya, bla bla bla… Hm, aku curiga…itu pasti karena mereka gak mau bantuin kami manjat balik ke atas. Menurut kalian, mana yang lebih masuk akal? Yang terakhir kan? #mukaperang

Siapa sih yang gak pengen turun juga...#Srau

Siapa sih yang gak pengen turun juga…#Srau

Dengan rasa penasaran  tidak bisa main air di pantai bening itu, kami meninggalkan Srau, mengarah ke Teleng. Keluar dari jalur Srau, kembali ke jalan besar arah Solo-Pacitan, kami si sambut vespa-vespa, yang rupanya mulai keluar dari Pacitan, dengan segala keanehan modifikasinya. Ada satu vespa melaju dari arah berlawanan, dengan gubuk diatasnya. Iya gubuk. Lengkap dengan atap rumbianya. Luamayan, kalo hujan turun, mereka tidak kehujanan. He,he…Ada lagi kami temui lima anak-anak muda, duduk di pinggir jalan dengan roda-roda vespa di dekat mereka. Hm…apa vespa hasil karya mereka sudah terlalu uzur, lepas satu-satu dan tersisa hanya rodanya saja? Tak henti-henti kami nyengir sepanjang jalan, membayangkan cerita-cerita di balik vespa dan kenekatan pengendaranya.
Di Teleng, kami mampir ke warung Bu Gandos. Bener-bener kangenku akan thiwul gak bisa ditahan. Jadi semua pesen nasi putih, hanya aku sendiri yang ber-thiwul ria. Ngotot mereka gak mau. Tapi giliran thiwul dateng, padha pengen nyincip. Hadewwwwwwww, kenapa sih gak pesen sendiri saja. Sayang, Kelong gak ada disini. Kata sepupuku, Kelong banyak dijual di pantai Teleng, bukan di luar. Tapi Paijo males masuk pantainya, gak mau umpel-umpelan ma vespa-vespa yang pasti berebut mau keluar dari Teleng. Iya juga sih? Tapi…haduuuuuuuuuuuuuuuh, masa dah nyampe Pacitan gak makan Kelong sih?.
Jam dua lewat dikit kami memutuskan segera jalan ke Ketro, ke rumah Nur, sepupuku. Dipandu melalui telpon, karena aku sempet bingung cari arah Ketro, akhirnya nyampe juga kami di rumahnya. Ketro itu berjarak sekitar 12 kilometer dari Pacitan. Jalanan nanjak tapi mulus. Kalo diteruskan, jalanan itu bisa tembus Trenggalek. Katanya sih, belum pernah juga lewat situ. Hujan menyambut kami di Ketro. Gerimis. Dan udara didaerah ini memang lebih dingin. Mereka berempat bergantian mandi, makan…trus jam lima lewat dikit ku pak mereka berempat, balik ke Surabaya.
Aku?
Hmmm…aku tinggal dulu ya teman. Nambah sehari. Mo keliling-keliling dulu.

#Dan mereka menyebutku penipu.

Episode B29

Tangan masih pegel sebenarnya. Tapi ya tahu sendirilah…banyak yang nunggu tulisan ini. #Soknyalagikumat

B29.
Apaan tuh? Sabun colek?
He,he…menyebalkan emang ngomong ma orang gak ngeh.
B29 itu masih berada di area TNBT, di daerah Lumajang, masih Jawa Timur juga. 3 Jam doang perjalanan pake bis. Nah…karena TNBT ini indahnya dijamin, kami pun tancap bus Sabtu pagi dari Surabaya. Kali ini kami jadi 2 rombongan. Pertama ada aku, Ka ros, Bing bing, Rotul, Indri ma Ayok. Rombongan kedua ada Om ma mba Nanik yang berangkat belakangan.
Perjalanan Surabaya ke Lumajang smooth banget. Kami turun terminal Minak Koncar yang sepi. Masih pagi dan perut lapar membuat kami memutuskan sarapan di warung pinggir jalan, mampir indomart buat numpang ke toilet, trus nanya-nanya cara pergi ke Senduro. Yups…kami ini memang pede gak tanggung-tanggung, padahal gak tahu sama sekali soal transportasi di Lumajang.
Akhirnya…setelah nego alot ma angkot, sopirnya mau antar kami sampai Senduro dengan ongkos limabelas ribu per orang (Kami masih mikir ini kemahalan…). Ternyata lumayan juga jaraknya…butuh waktu 40 menitan buat sampai pasar Senduro. Di pasar ini, kami diserbu banyak pak Ojek. Ada yang nawarin ke Ranu pani, ke Argosari. Nah, kita tanya dong ke Argosari berapa duit? Mereka jawab, “Sampai puncak 100 rebu. Tapi kalau cuma sampai Gedok 60 rebu saja.” Hadewww…serasa mau pingsan dengernya. Mahal bingits pangkat sepuluh. Dan gebleknya lagi…kami ini tidak ada yang tahu, seberapa jauh jarak Senduro ke Argosari. Nah..ya udah…kami mau mencari info dulu lah. Kita putuskan ke Indomart lagi (…cuma itu yang ada…), rencananya mau melarikan diri dari kerumunan tukang ojek supaya kami bisa berpikir jernih (setelah mendengar ongkos ojek yang mengeruhkan pikiran). Eh..itu tukang ojek malah mengarahkan motor mereka, nungguin kami di Indomart. Kami yang jalan kan tambah pusing. Trus noleh ke kanan, lihat ada polsek dan beberapa polisi sedang duduk di pos mereka. Kuputuskan belok, mampir ke polsek buat tanya-tanya. Nah…bapak polisi itu bilang, memang tidak ada kendaraan umum ke Argosari. Adanya ojek. Haaaaaaah…tapi mahal baeng, Pak. Masa seratus ribu? 6 orang 600 ribu. Cuman buat ojek???? No Way!!!
Nah…tak ada pilihan, berbagai senjata menawar harga ojek pun kami keluarkan disertai setel tampang memelas, gak punya duit. Eh, kurang ajar tuh tukang ojeknya bilang, “Niat dolan kok ra duwe duit…”. Yee…bapak tidak tahu, kami ini kan 75%nya niat…duitnya diteken ampe 25%. Yang penting kan total 100% Pak. Tukang ojek kekeuh…dengan 40 ribu, dan kami kekeh dengan 30 ribu nyampe argosari. Tak ada kata sepakat, kami pun istirahat dulu…ngaso di polsek. Numpang ke toilet, numpang sholat, ngobrol-ngobrol ma Pak Polisi yang ramah-ramah. Bahkan mereka becandain kami, apa kami mau diantar saja ama mobil patroli? Ha,ha…kayaknya ide keren banget tuh Pak.
Yo wes lah…akhirnya gak ada titik damai di dompet untuk Pak Ojek, kami memutuskan jalan kaki saja. “Sampai Argosari?” tanyak Pak Polisi keheranan. Ya bagaimana lagi pak…daripada kami gak bisa balik ke Surabaya karena habis buat bayar ojek? Tuhan…betapa mahalnya pergi ke B29. Rencana…nih rencana ya…kami mau nebeng truk-truk yang lewat ke arah argosari. Masa gak ada sih? Pasti ada kan? Tuh…kayak film-film hollywood. Wajah Rotul ma Indri udah pucat pasi, membayangkan mereka jalan kaki yang katanya sejauh 15 kilometer. Kata bing bing…itu sama kayak Deltasari ke Citarum doang. Enteng! Yang kami lupa, itu jalan pake nanjak…trus kami semua manggul ransel kalo dikiloin…ya ada kali 10-15 kilogram per ransel. Apalagi Ayok.
Dan Tuhan memang sayang kepada para musafir…#Ehem.
Tidak diduga, mobil patroli polisi lewat trus berhenti di depan kami. Pintu depan di buka, dan bapak Polisi baik hati itu keluar. “Ayo!” ajaknya. Hah…”Emang bapak mau kemana?” tanyaku. Pertanyaan tidak penting banget ya. “Ke Argosari. Ke rumah Pak Lurah…mereka sedang hari raya..”. Ops! Kami tidak terlalu peduli bapak mau kerumah siapa di Argosari, yang penting nyampe argosari Pak!. “Tapi ada yang duduk di bak belakang ya.” Kata mereka. O…No Problemo. Rotul dan Indri kami dorong masuk ke bangku belakang, sedang aku, Ka Ros, Ayok ma Bing bing loncat ke atas bak belakang. Yipppiiiiii….
Tak henti-hentinya kami tersenyum seperti orang sinting di bak belakang. Dan Senduro ke Argosari itu………jauh banget teman. Udah gitu jalannya nanjak terus…kelok-kelok. Pantesan itu tukang ojek gak ada yang mau kami tawar 30 ribu. Mohon maaf Pak Ojek…tidak bermaksud pelit…tapi kami takut ketipu.

Wajah-wajah bahagia dapat tebengan #makasihpakpolisi

Wajah-wajah bahagia dapat tebengan #makasihpakpolisi

Kami sempat istirahat sebentar di Gedok…makan bakso dan foto-foto dengan latar Semeru yang angkuh di kejauhan. Nah…disini kami baru ngeh, satu dari Pak Polisi itu ada yang ngefans ma Ka Ros ternyata. Hi,hi…pantesan mau bela-belain nganter kami ke Argosari, pake alasan ke Pak Lurah lagi. Yo wes lah Ka…gak pa pa…yang penting kita gak jalan kaki 20 kilometer. Oke?

Berlatar belakang yang tertinggi di Jawa. SEMERU #diGedok

Berlatar belakang yang tertinggi di Jawa. SEMERU #diGedok

Sampai di Argosari, kami turun di depan rumah Pak Lurah. Kami sih gak singgah. Setelah berterima kasih ama bapak-bapak baik hati itu, kami langsung jalan naek ke B29 yang berjarak 7 kilometer dari situ. Rotul dan Indri sudah langsung menyatakan tidak akan jalan, ngojek saja. Wokelah…silahkan, kami nitip tenda saja ya. Tinggallah aku, Ayok, Bing bing dan Ka Ros jalan kaki. Santai saja ya Yooooooook….awal-awal masih ada bonus jalannya, semakin ke atas…bonusnya semakin minimal bahkan gak ada. Bingar yang tadi bersemangat, tiba-tiba bilang matanya kunang-kunang. Gawat! Kalo dia pingsan…siapa coba yang nggendhong dia. Belum lagi ranselnya yang besarnya se-Indri. Wes Bing kamu ngojek aja ya! Buru-buru kami menghentikan tukang ojek yang baru turun buat nganterin dia ke atas. Trus kami titip ransel kami deh. Makasih ya….

View dari atas, satu kilometer sebelum puncak. #JauhdisanadesaterakhirsebelumB29

View dari atas, satu kilometer sebelum puncak. #JauhdisanadesaterakhirsebelumB29

….
Trek ke puncak B29 ini sih sebenarnya landai…tidak terlalu terjal. Tapi debunya itu gak nahan. Setiap kali ada motor lewat, kami harus tutup hidung dan balik badan. Apalagi setelah melewati portal dan tinggal 1,5 kilometer lagi, itu debu semakin tidak manusiawi. Begitu kaki melangkah, kaki langsung terbenam dalam debu sebatas mata kaki. Jadilah kami melipir di pinggir jalan…dengan pasang kewaspadaan ekstra karena meleng sedikit, bisa ngglundhung jauh ke bawah sono. Butuh 2 jam lebih buat kami untuk sampai ke Puncak diiringi teriakan-teriakan Bingar yang sudah melihat kami dari atas, memberi penyemangat. Udah kayak cheerleader aja dia, “Kamu bisa!!! Kalian hebat sekali…….!!!!”.  #Sayacumamauselonjorditendasaja

Puncak B29 belum ada orang. Siiiiiip. Kami kan bisa menguasai tempat buat mendirikan tenda. Belum lama kami selesai mendirikan tenda dan mulai membongkar ransel, Mba Nanik ma Om datang. Akhirnya kami lengkap sodara. Welcome to B29, Mba…
Sementara kami bantu Om mendirikan tenda…Ka Ros ma yang lain mulai masak air buat bikin minum panas. Semakin sore, nih hawa semakin dingin dan angin semakin kencang. Jadi…saya mau hot coklat saja ya. Hm…Menatap senja yang menjingga, di puncak B29, di depan tenda, bersama mereka….dengan segelas coklat panas di tangan……hmmmmmmmmm. Surabaya? Ada dimana ya? #mendadaklupa

Coklat...Senja...dan Sahabat

Coklat…Senja…dan Sahabat

Foto paling GJ seIndonesia Raya. #Thank Ayok..

Foto paling GJ seIndonesia Raya. #Thank Ayok..

Mba Nanik mulai mengeluarkan bekalnya. Ada bakso…ada sambel terong…ada wader ma sambel peda-nya Ka Ros, ada mie-nya Bing bing. Oeiiii…kita pestakah ini? Hi,hi…Nah lo, padahal aku tadi dah pesen nasi ma telor di ibu warung bawah. Makannya kapan ya semua itu…
Habis maghrib tiba-tiba kakiku kram jadi aku selonjoran di dalam tenda. Ayok ma Om ke bawah..ambil pesanan nasi, ma telor. Trus aku kaget ketika ada bunyi kayu bakar ditaruh. O ya, kami pesan kayu buat api unggun tadi. Yang membuat aku kaget sih yang nganter 2 anak kecil. Yang kecil lima tahunan lah…yang besar (kakaknya) ternyata dah lulus SD. Ya lulus SD. Tidak sekolah lagi. SMPnya katanya jauh banget. Iya sih…sepanjang jalan aku belum nemu bangunan SMP. Pak Camat…Pak Bupati…Pak Gubernur, bukannya pendidikan dasar wajib itu 9 tahun? Kok masih ada ini? Ini Jawa Timur lho…cuman 3 jam dengan bis dari Surabaya. Dulu kan ada SD bantu…nah disini sepertinya harus juga ada SMP bantu, Pak. Bapak-bapak tidak kasihankah dengan mereka ini? Benarkan pendidikan itu hak seluruh anak bangsa seperti tercantum di undang-undang dasar kita? #jadiemosi
Tangan-tangan mungil itu terampil sekali membuat api. Aku yang tadinya enggan keluar dari tenda karena dingin, akhirnya keluar melihat mereka menyalakan api buat kami. Sang Kakak menumpuk kayu diatas api yang menyala…sementara sang adik memegangi senter, menerangi. Ih…manisnya mereka. Setelah api besar dan stabil…mereka pun pamit. Melihat sang kakak sudah tidak membawa apa-apa, manjanya yang kecil muncul. “Mas..gendhong aku!”. Tanpa bicara, si Kakak jongkok supaya adiknya bisa naik ke punggung. Berdua mereka hilang digelapnya malam.

Bonfire...karya tangan-tangan kecil itu.

Bonfire…karya tangan-tangan kecil itu.

…..
Ayok balik bawa nasi se-dandang. Swear! Tuh anak bawa dandangnya juga. Aiiiiiiiiiih ibu…masa iya sih segitu banyak. Meski kami manusia nasi…gak segitunya kali. Tapi yo wes lah…besok pagi sekalian buat sarapan. Mari kita menikmati api unggun, mencoba menghilangkan dingin di badan. Ayok bahkan udah kayak jagung dibakar aja…membolak-balikkan badan di depan api. Kadang hadap ke api…kadang memunggungi apa. Ka Ros bingung, “Gimana ya ngilangin dingin di dada ma perut.” Ha,ha…tengkurap aja Bu diatas api…pasti hangat…
Tapi angin B29 ini semakin malam semakin gila. Hawa yang sudah dingin semakin terasa dingin lagi. Dan jam delapan malam aku menyerah…masuk tenda, nyungsep dalam sleeping bag, ninggalin Om ma Ayok diluar. Mereka mau makan lagi katanya. Bing bing sudah hanyat jauh di alam mimpi…aku cuma gulang-guling kedinginan. Suara angin yang menerpa tenda, menimbulkan bunyi heboh yang sukses membuatku tak bisa memejamkan mata. Apalagi jam sepuluh malam ada yang masih berdatangan pake ojek..trus ribut-ribut mendirikan tenda di sebelah. Insomniaku berlanjut sampai jam dua belas. Sebenarnya pengen banget keluar…toh di dalam tenda juga gak bisa mejamin mata. Tapi karena gak tahu cara keluar tenda tanpa meninggalkan sleeping bag…aku pun menyerah sampai akhirnya aku tak dengar apa-apa lagi.
…..
04.15
Pingin pipis yang membangunkanku.
Diluar…Ayok dan Om sudah ramai…mau rebus air. Ok bro…sekalian yang banyak ya, buat kami juga. Hi,hi…
Satu-satu kami keluar dari kehangatan tenda, bertarung dengan dingin untuk menikmati lukisan pagi-Nya. Selalu indah…selalu memukau…Subhanaallah! Engkau Yang Maha Indah…terima kasih untuk lukisan senja dan pagi yang luar biasa. Di depan ada view Bromo, Batok dan Penanjakan….dengan lautan pasirnya yang melegenda.  Di belakang ada sunrise yang muncul dengan anggun, tanpa malu-malu. Di samping kiri, aku yakin…Semeru masih berdiri angkuh meski puncaknya tak terlihat dari tenda kami. Hm…tidak setiap hari kami dapati ini.

Tenda dan Pagi. ...makasih Aok untuk pict-nya. Love it.

Tenda dan Pagi. …makasih Ayok untuk pict-nya. Love it.

Kali ini dengan background yang melegenda. BROMO.

Kali ini dengan background yang melegenda. BROMO.

Sarapan pagi dulu....#wajahtidaktidursemalaman

Sarapan pagi dulu….#wajahtidaktidursemalaman

Mentari menyapa puncak Bromo, Batok dan Penanjakan...

Mentari menyapa puncak Bromo, Batok dan Penanjakan…

Matahari mulai berajak meninggi. Dan B29 ini semakin ramai…bahkam ada pentasbikan Sipala segala disamping tenda kami. Sipala? Agaknya perlu diragukan kalau pulangnya mereka meninggalkan banyak sampah begitu. Huh!! #Sebel.com
Selesai membongkar tenda..aku, ka ros dan Bing-bing mendaki bukit disamping kami, dimana banyak ilalang tinggi yang menggoda untuk menjadi lokasi narsis. Yang lain dengan sabar menunggu kami. Ha,ha…terima kasih teman sudah sabar dengan kelakuan kami.

Diantara ilalang liar...#kalo kesana, cari spot ini di B29 ya

Diantara ilalang liar…#kalo kesana, cari spot ini di B29 ya


Turun kebawah kami naek ojek. 25 rebu nyampe argosasri…Dan naek ojek dari puncak ke Argosari ini gak ada enak-enaknya blas. Padahal aku berencana buar ambil gambar serunya naik ojek…motret tuh jalan yang tidak berbentuk, dan debu-debunya yang juara. Tapi jangankan ngeluarin smartphone..yang ada nih tangan pegangan kuat-kuat, takut terlempar dari atas ojek. Gak lucu banget kan?
Nah, pak ojek ini nawarin nganter kami pake pick up…tawar menawar , akhirnya deal 35 ribu/ orang. Okelah…daripada bayar 60 ribu untuk satu ojek? Ini sih lebih murah. Trus si bapak masih mau nungguin kami yang pengen mampir di Pura Semeru Agung. Itu…Pura terbesar se Asia Tenggara. Bapak penjaga puranya baik banget, mengijinkan kami masuk. Tapi kami terlalu malu dengan kedekilan kami yang sudah diluar batas kewajaran. Ayok aja rambutnya tiba-tiba jadi pirang saking ratanya itu debu nempel. Gak sopan banget kan. Jadi kami sudah harus cukup puas untuk foto-foto di depan gapura saja. Sudah. Gitu aja…kami trus lanjut ke pasar senduro. Turun dari Pick up kami disambut ma sopir elf yang menawarkan mengantar ke menak koncar. Kami tawar 10 ribu, si bapak sopir iya saja. Kasihan sepertinya melihat tampang kami yang dekil banget. Sebenarnya kami berniat mampir polsek buat numpang mandi…tapi Ka Ros ogah. Yo wes…atas usul Ayok, tempat mandinya diubah di terminal Minak Koncar saja.

Kendaraan untuk turun...Argosari-Senduro.

Kendaraan untuk turun…Argosari-Senduro.

….
Sampai di terminal Minak Koncar, kami bergegas mencari kamar mandi. Kenek dan kondektur berteriak-teriak, “Kemana Mba? Jember? Banyuwangi? Dampit?”. Kami cool saja menjawab, “Ke toilet, Pak!”. He,he…bingung kan? Orang memang kami mau ke toilet kok…numpang mandi.
Dan ya Tuhan…kedekilan kami terbukti dengan warna air yang jadi coklat setelah terkena badan. Hi,hi…berlumur debu  ternyata. Setelah acara memanusiakan diri kelar, lanjut sholat (diterminal juga) dan makan…kami kembali ke pinggir jalan. Menunggu bus patas ke Surabaya demi Rotul. Untung….bukan peak season, jadi masih dapat tempat duduk dalam bus. Begitu pantat menyentuh kursi, terbuai AC, bayar karcis…kami pun terbang masing-masing ke alam mimpi.

Bye B29

#Floresmenunggu

It’s like a book.

The world is like a book. And those who do not travel, only read one page. ….
But for me, Indonesia (itself) is like a very interesting book, consist of a lot of beautiful chapters. So how about the world? The world is like a gigantic library. Could you imagine if you are a book addicted and find this? You will be so curious…want to read all of those books.
#Mupeng itu pasti.
Bisa sih disiasati dengan membaca. Kan dibilang tuh, membaca itu membuka jendela dunia. Emang iya. Tapi seperti juga membaca buku, kalau tahunya tentang tempat lain itu didapat dari membaca, itu seperti ada orang yang sudah membaca sebuah buku, trus orang itu menceritakan isinya pada kita. Bayanganku sih, pasti ada banyak hal yang tidak diceritakan. Bukan…bukan karena orang itu tidak mau bercerita, tapi ada sebuah cara pandang yang berbeda. Buat orang yang bercerita, mungkin sebuah paragraf sangat menarik dan merasa harus diceritakan, tapi buat pendengarnya mungkin itu biasa saja. Dan kebalikannya, sesuatu yang dianggap biasa saja oleh si pembaca sehingga dia merasa tidak perlu diceritakan, tapi sebenarnya hal itu sangat ingin diketahui si penikmat cerita. Atau bisa juga keterbatasan waktu atau kemampuan bercerita setiap orang yang berbeda sehingga…apapun itu alasannya, ada banyak hal yang tidak diceritakan oleh si pembaca buku. Sering banget nih aku, cuman gara-gara temen cerita tentang sebuah buku, padahal dia udah cerita lho bukunya itu bagaimana isinya, bahkan beberapa detail dengan dialognya…eh, ujung-ujungnya memutuskan untuk membeli buku tersebut, padahal kan udah dikasih tahu, isinya seperti apa. Tanya, kenapa? Karena aku penasaran, ingin ikut mengalami sendiri nikmatnya membaca, menelusuri kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf…sampai tamat. …
Nah…ini juga yang melanda kalau aku baca catatan perjalanan banyak orang yang beredar di internet. Puas? He,he…jawabnya sih pasti enggak. Apalagi untuk model a bit dreamer macam aku, yang kalau baca sesuatu, imajinasinya langsung melayang-layang, jauh…jauh…jauuuuuuuuuuuuuuh. Dan para travel blogger ini punya racun yang sangat kuat, siap meracuni setiap saat. Dan tanpa kita sadar, kita sudah teracun tanpa adanya penawar. Opsss…air kelapa muda tidak mempan lagi.
Dulu…jaman masih sekulah, kalo pengen pergi-pergi, yang diributkan cuma satu. D-U-I-T. Minggu ini gak ada duit, minggu depan gak ada duit, bulan depan gak ada duit. Lha wong bisa bayar kuliah dan diijinkan ikut ujian saja sudah bersyukur banget. #Sttt, kenangan nomor ujian tidak ada saat ujian semester gara-gara belum bayar semesteran. Btw, thanks ya temen-temen kuliahku dulu, yang sering ngasih gratisan kalo ngajak dolan. Kalian (Heru, Katin, Ana, lilik, mika…dan semua lainnya) baek banget seh.. Nah…sekarang sudah bisa bagayo. Sudah bekerja, punya duit sendiri (dulu mah ngemis mas ortu), beraso sedikit kayo, jadi pasti lebih gampang ngeluyurnya. Oeitsssssss….kata siapa? Sekarang yang diributkan apa lagi kalo gak…C-U-T-I terbatas euy! Mana sempaaaaaaaaaaaaaat…keburu telat. Eh, itu iklan ya?
Nah…cuti setahun cuma 18 hari. Gak bisa diambil semua langsung kecuali kau pemilik perusahaan. Paling banter seminggu…atau boleh dua minggu kalau untuk keperluan pulang kampung luar pulau yang perjalanannya lebih dari 2 hari (bukan ngesot ya ampe 2 hari perjalanan, maksudnya naek kapal laut misalnya). Nah, bayangkan kalau aku mau explore Sumatra yang segitu panjangnya (di peta Indonesia). Kalau cuma duduk diatas bis, dari Aceh sampe Merak sih iya…bisa lebih tuh cuti seminggu. Tapi kan gak bisa dibilang itu explore Sumatra. Belum lagi kalau mau explore kalimantan yang gendut banget (di peta Indonesia). Hadew, sebulan juga kurang kayaknya. ….
Jadi, orang-orang memprihatinkan macam kami ini selalu berhitung njlimet kalau mau mempraktekkan ilmu keluyorologi. Apalagi penyebabnya kalau bukan terbatasnya waktu libur. Jadi kami ini bukannya sok kaya kalau pergi-pergi itu naek pesawat. Sama sekali bukan. Itu hanya untuk menghemat waktu perjalanan (yang hematnya bisa sampai 2-3 hari kalau ke flores). Tidak jarang kami ini, pulang mbolang dari manapun, sampai di homebase (Surabaya) jam 4 pagi atau bahkan 5 pagi hari Senin. Trus jam 7-nya dah harus siap kerja. “Kapan tidurnya?” tanya seorang temen. He,he…tidurnya ya di jalan, bagaimana kita memanfaatkan tiap momen istirahat dengan sebaik-baiknya tidak peduli itu di pesawat, kereta, bus atau kendaraan apa pun.
Dengan segala daya dan upaya yang cetar membahana (Alay!), mulai dari puasa senin-kamis dengan dua niat (ibadah dan ngirit), mau lembur hari libur (lumayan dapat ganti libur), berburu tiket promo meski dari setahun sebelumnya (untung bukan dari abad sebelumnya), memanfaatkan pertemanan (peace pren!), akhirnya kami bisa ‘menjejakkan kaki’ di sebuah tempat baru, belajar budaya baru, bahasa baru, menikmati setiap ‘kata’… ‘kalimat’… ‘paragraf’….

Jauhlah aku ini untuk bisa dikatakan membaca seluruh bab. Apalagi menamatkan sebuah buku. Tapi semoga Tuhan mengijinkanku untuk menamatkan satu buku menarik, yang berjudul Indonesia. Memberiku kesempatan juga untuk membaca satu ‘bab buku’ lain bersub judul  ‘Mekah’. Amin. Meski gak akan pernah menolak juga kalau disodori buku ‘Spanyol’, ‘Nepal’, ‘Maroco’, ‘Amerika’. He,he…
#Keplaksirahe